Teknologi Hijau – Penyeimbang Kebutuhan Dan Kelestarian Lingkungan

Teknologi Hijau - Penyeimbang Kebutuhan Dan Kelestarian

Sejak beberapa tahun belakangan ini, penggunaan istilah teknologi hijau di Indonesia semakin merebak. Berbagai kalangan, mulai dari pejabat pemerintah, pemerhati lingkungan, pengamat, hingga masyarakat umum mulai sering memakai istilah yang satu ini.

Hal ini berkembang seiring dengan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat, bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di berbagai belahan dunia lain, terhadap lingkungan yang meninggi. Memang, gaungnya di Indonesia tidak sekeras di berbagai negara maju karena tingkat kesadaran terhadap lingkungan masih bisa dibilang tertinggal, tetapi tetap saja banyak orang mulai melibatkan diri, baik untuk sekedar berpidato atau bahkan sudah secara praktek berusaha menemukan dan mengembangkan teknologi hijau ini.

Tetapi, sebenarnya apa sih Teknologi Hijau itu?  Apa manfaatnya bagi kehidupan manusia? Bentuknya seperti apa?

Sebuah pertanyaan yang sudah pasti menggantung di benak banyak orang karena sejauh ini memang masih kurang banyak sosialisasi dan informasi tentang apa dan bagaimana teknologi yang satu ini.

Apa Itu Teknologi Hijau ?

Istilah TEKNOLOGI HIJAU sendiri merupakan terjemahan langsung, kata perkata dari istilah dalam bahasa Inggris, yaitu GREEN TECHNOLOGY (Green = Hijau, Technology=Teknologi).

Definisinya sendiri memang agak sulit dirumuskan karena mencakup hal yang sangat luas. Ada baiknya juga mencoba melihat asal kedua kata dari istilah ini, yaitu :

1) Teknologi

Memang banyak orang yang berpikiran bahwa teknologi itu selalu berkaitan dengan produk elektronik, seperti gadget, smartphone, TV, pesawat, tetapi sebenarnya kata ini mengandung makna yang lebih luas dari hal seperti itu saja.

Yang seperti disebutkan di atas hanyalah sebagian kecil saja karena pada dasarnya teknologi itu berkaitan dengan penerapan pengetahuan dalam kehidupan manusia.

Beberapa penjelasan tentang kata teknologi sendiri adalah sebagai berikut :

  • Pengetahuan untuk membuat peralatan, melakukan proses, dan untuk mencari material/bahan
  • produk dan/proses yang dilakukan untuk mempermudah kehidupan manusia serta menambah kemampuan manusia untuk melakukan sesuatu
  • Aplikasi dari pengetahuan yang dimiliki manusia untuk memecahkan sebuah masalah

Dan, di atas hanyalah sebagian dari berbagai hal terkait kata teknologi. Masih banyak yang lain.

Meskipun demikian, intinya tetap sama, yaitu semua hal, baik berbentuk proses atau materi yang bermanfaat dan dipergunakan manusia untuk menunjang dan mempermudah kehidupannya.

Salah satu contoh sederhana adalah sepeda, mobil, sepeda bermotor. Ketiga benda itu adalah bentuk aplikasi teknologi. Proses pembuatannya juga merupakan bagian dari teknologi.

2) Hijau

Kata “Green” atau Hijau sendiri belakangan ini tidak lagi hanya sebuah kata untuk menunjukkan warna saja.

Kata ini menjadi simbol yang terus digemakan ke seluruh dunia sebagai lambang kelestarian alam dan lingkungan. Banyak sekali organisasi pemerhati lingkungan dunia yang menggunakan kata ini, seperti “Greenpeace”, salah satu organisasi non profit yang berjuang mempertahankan lingkungan.

Hijau yang merupakan warna dari kebanyakan pohon di dunia menjadi sebuah perlambang lingkungan dan alam.

Banyak kata lain digandengkan dengan kata “hijau”, seperti gaya hidup hijau, mobil hijau, energi hijau. Semua ini bukan sekedar untuk memperlihatkan warna dari kata-kata di depan kata “hijau”, tetapi untuk menjelaskan bahwa benda itu atau tindakan yang dilakukan berlandaskan pada pemikiran ramah lingkungan.

Hijau adalah simbol ramah lingkungan.

Jadi, kalau digabungkan menjadi satu istilah maka teknologi hijau bisa diartikan sebagai tindakan atau proses yang dilakukan untuk mempermudah kehidupan manusia dengan berlandaskan pada prinsip ramah lingkungan.

Bisa juga diartikan sebagai proses atau tindakan yang ditujukan untuk menemukan sesuatu yang bisa membantu manusia pada saat bersamaan juga menjaga kelestarian alam dan lingkungan.

Teknologi hijau memiliki nama lain, yaitu teknologi lingkungan karena sifatnya yang juga menitikberatkan terhadap kelestarian lingkungan dan bukan sekedar memperhatikan unsur kebutuhan manusia saja.

Teknologi Hijau - Penyeimbang Kebutuhan Dan Kelestarian 2

 

Prinsip Teknologi Hijau

Sejauh ini, masih belum ada standar yang berlaku secara internasional tentang bagaimana sebuah teknologi hijau seharusnya. Meskipun demikian, secara umum ada beberapa hal yang membuat sebuah upaya mempermudah kehidupan manusia dikategorikan sebagai sebuah teknologi hijau, yaitu

1) Keberlanjutan (Sustainability)

Sebuah teknologi hijau bukan hanya harus bisa memperbaiki dan mempermudah kesejahteraan umat manusia saja, tetapi juga harus memikirkan tentang keberlanjutannya di masa depan, tidak menghabiskan/merusak sumber daya alam yang berguna bagi generasi mendatang.

Pada dasarnya, teknologi (hijau) harus mampu memenuhi kebutuhan umat manusia di masa kini sambil tetap harus menjaga kelestarian lingkungan dan sumber daya  alam agar tetap bisa dinikmati dan menjamin kehidupan di masa mendatang.

2) Cradle to Cradle

Tidak ada padanan yang tepat untuk istilah yang satu ini dalam bahasa Indonesia. dan memang konsep ini dikembangkan sebagai pengembangan dari prinsip ramah lingkungan.

Intinya adalah sebuah produk, berupa barang , setelah selesai dipergunakan, tidak akan langsung masuk ke tempat sampah. Benda yang sudah tidak terpakai itu masih akan tetap bisa dimanfaatkan lagi, baik dengan melakukan pemrosesan ulang atau langsung dipergunakan oleh orang lain.

Istilah ini salah satunya tercermin dalam konsep reuse dan recycle, yang merupakan bagian dari prinsip 3 R.

3) Source Reduction

Cara pencegahan terbaik dari sebuah usaha pencegahan polusi adalah dengan mencegah polutan dihasilkan atau menutup sumbernya. Bukan menguranginya. Limbah yang sudah dilepaskan ke alam pasti akan tetap menimbulkan kerusakan dan sangat sulit untuk memperbaikinya.

Oleh karena itu, sebuah teknologi hijau haruslah berdasar pada pemikiran bahwa tidak boleh ada limbah yang dihasilkan.

Contohnya, untuk mengurangi polusi air, maka tidak boleh ada limbah yang dibuang ke aliran air. Kalau limbah itu sudah dibuang,, tetap saja kualitas air akan menurun karena tercemar. Cara yang terbaik adalah dengan mencegah limbah tersebut dengan cara mengelola limbahnya dulu sebelum masuk ke sumber air.

Itu adalah prinsip dari Source Reduction atau pengurangan sumber dimana kemungkinan bahaya pencemaran masuk ke alam dikurangi atau dihilangkan pada titik awal polutan itu berasal. Caranya dilakukan dengan memperbaiki proses produksi atau cara konsumsinya.

4) Inovasi (Innovation)

Prinsip ini merupakan dasar dari berbagai usaha manusia untuk menemukan sumber energi alternatif

Bahan bakar yang berasal dari fosil, seperti solar, bensin, dan avtur merupakan salah satu sumber utama penghasil polusi udara. Hal ini tidak bisa terus berlanjut, bukan hanya karena sumbernya suatu waktu akan habis, tetapi penggunaannya hampir pasti akan menyebabkan memburuknya kualitas udara di dunia.

Polusi udara berat yang menyebabkan Jakarta, pada tahun 2019 ini, mendapat laberl sebagai kota dengan polusi udara ketiga terburuk di dunia, sebagian besar akibat kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar fosil ini.

Inovasi yang dilakukan adalah dengan cara mencoba mencari bahan bakar yang tidak mengeluarkan gas-gas berbahaya saat dipergunakan, seperti listrik, cahaya matahari, hidrogen, dan banyak lagi lainnya.

Teknologi hijau yang tinggal menunggu waktu akan menjadi inti pengembangan teknologi dunia di masa datang harus memiliki prinsip yang berlandaskan pada pemikiran seperti ini,

5) Kelestarian (Viability)

Perubahan pola pengembangan kehidupan di masa depan haruslah berlandaskan pada prinsip kelestarian, yang artinya pertumbuhan ekonomi dan aktivitas ekonomi harus berpusat pada teknologi dan produk yang ramah lingkungan.

Produk-produk itu bukan hanya harus bisa memenuhi kebutuhan manusia, tetapi juga harus memberikan dampak positif kepada lingkungan. Dengan begitu, kelestarian alam dan lingkungan bisa terus berlanjut dan dinikmati oleh generasi berikutnya.

Ladang angin - contoh teknologi hijau

Bentuk Teknologi Hijau – Banyak Sekali !

Teknologi bukan hanya segala sesuatu yang berkaitan dengan internet, smartphone, atau barang elektronik.  Aplikasi dan produk yang dibutuhkan manusia tidak terhingga  ragam dan variasinya,

Maklum, kebutuhan manusia itu tidak ada batasnya, mulai dari sekedar pakaian dalam, sampai dengan kendaraan bermotor, semua dibutuhkan manusia. Dan, segala sesuatunya bisa disebut dengan teknologi.

jadi untuk membeberkan semua jenis teknologi hijau yang berkembang saat ini.

Meskipun demikian, ada beberapa teknologi hijau yang begitu menonjol dan dipandang sangat penting bagi masa kini dan masa depan.  Teknologi-teknologi ini dianggap sangat krusial, baik untuk menvegah kerusakan lingkungan , tetapi juga untuk mengatasi keterbatasan sumber daya alam.

Teknologi lingkungan yang dimaksud adalah :

a) Energi Alternatif/Terbarukan

Sumber bahan bakar fosil seperti minyak bumi dan batubara semakin menipis dan tidak bisa digantikan. Bila penggunaannya terus berlangsung seperti saat ini, tinggal menunggu beberapa puluh tahun lagi maka dunia akan kehabisan sumber energi karena sumber itu akan habis dan tidak tergantikan.

Belum lagi masalah polusi udara, gas rumah kaca, dan pemanasan global yang dihasilkan akibat penggunaan bahan bakar jenis ini semakin hari semakin mengancam.

Maka, penggantinya harus ditemukan.

Hasilnya dari pemikiran ini melahirkan beberapa sumber energi yang terbarukan dan tidak menyebabkan polusi udara, seperti sel sinar matahari dan kincir angin yang bisa menghasilkan listrik, penggunaan hidrogen untuk menggerakkan kendaraan bermotor.

Yang satu ini adalah contoh dari teknologi hijau paling penting.

b) Pertanian Vertikal

Manusia butuh makan dan tempat tinggal. Kedua kebutuhan manusia itu selama ini membutuhkan “lahan” untuk pemenuhannya. Hasilnya, kedua kebutuhan itu berebut lahan yang sangat terbatas karena bumi tidak akan berubah ukurannya.

Situasinya semakin mendesak karena setiap tahun jumlah manusia terus bertambah. Perbaikan dalam hal ilmu kesehatan membuat angka penghuni bumi terus naik setiap tahunnya. Artinya, kebutuhan akan lahan tempat tinggal pun akan terus meningkat pula.

Hasilnya, lahan yang tersedia untuk pemenuhan kebutuhan pangan semakin menyempit. Situasi yang seperti ini bisa dilihat di banyak kota besar dimana pangan harus disuplai dari daerah lain. Sayangnya, pada suatu waktu lahan untuk memproduksi pangan akan terus berkurang akibat pertumbuhan penduduk.

Tanpa pemanfaatan teknologi hijau dalam bidang ini, suatu waktu akan terjadi kekurangan suplai makanan bagi manusia.

Oleh karena itu, sebagai wujudnya, di banyak negara sudah dilakukan sistem pertanian vertikal. Dengan sistem pertanian seperti ini lahan yang dipakai lebih kecil.

Apalagi pengembangan teknologi hijau dalam bidang ini dibarengi dengan penemuan media-media tanam lain yang mirip tanah, seperti gel. Hal itu juga mengurangi perusakan tanah akibat pemakaian pupuk yang berlebih.

Suatu waktu sistem pertanian vertikal ini akan menjadi kunci pemenuhan pangan bagi umat manusia.

c)  Kendaraan Listrik

Pergerakan manusia tetap membutuhkan alat transportasi alias kendaraan dalam berbagai bentuk. Padahal, kendaraan bermotor merupakan salah satu penyumbang polusi udara terbesar di dunia. Asap yang dihasilkan oleh knalpot kendaraan mengeluarkan berbagai gas yang bukan hanya berbahaya bagi makhluk hidup tetapi juga merusak atmosfer bumi. Lubang ozone ditengarai semakin membesar tiap tahunnya.

Penggunaan kendaraan listrik, seperti sepeda motor, mobil listrik, kereta listrik akan mengurangi dan bahkan menutup sumber polutan yang mengotori udara. Kendaraan jenis ini tidak mengeluarkan asap buangan.

d) Bangunan Hijau

Bukan berarti bangunan yang dicat hijau, tetapi bangunan yang dibangun mempergunakan bahan-bahan yang tidak mencemari lingkungan. Juga, bangunan ini dibuat dengan konsep yang mengurangi pemakaian energi hingga seminimal mungkin.

Contohnya adalah penggunaan bahan baja ringan sebagai pengganti kayu. Dengan begitu maka kebutuhan akan kayu berkurang. Artinya, mengurangi kebutuhan lahan, penebangan hutan yang menganggu kehidupan di dalam ekosistemnya, juga menghindari kerusakan salah satu sumber oksigen dunia.

Bangunan yang dibangun dengan konsep teknologi hijau juga akan didesain agar kebutuhan energinya tidak besar, seperti pemasangan jendela yang besar agar sirkulasi udara lancar dan artinya tidak perlu menggunakan pendingin udara.  Pemasangan sel sinar surya untuk menghasilkan listrik atau pemanas air yang berarti tidak memerlukan listrik atau bahan bakar lainnya.

e)  Produk Berbahan Ramah Lingkungan

Pernah mendengar recycled polyester?

Polyester adalah salah satu jenis material yang banyak dipergunakan untuk industri tekstil. Bahan utamanya adalah minyak bumi. Memang murah karena bisa diproduksi secara massal, tetapi sayangnya kurang ramah lingkungan.  Bahan ini sulit terurai secara alami.

Sifatnya yang kurang ramah lingkungan inilah yang kemudian coba dipecahkan dengan menggunakan teknologi hijau, yaitu dengan mendaur ulang berbagai benda tidak terpakai / sampah yang mengandung polyester. Dari bahan-bahan ini kemudian dibuat lagi polyester baru yang bukan dibuat dari minyak bumi, tetapi dari polyester bekas.

Memang, belum 100% ramah lingkungan, tetapi dengan hadirnya produk rectcled polyester, pertambahan bahan tidak ramah lingkungan bisa ditekan.

Di masa depan, kehadiran produk-produk jenis ini akan semakin banyak dan menjadi keharusan kalau tidak mau bumi semakin memburuk situasinya.

Dan, masih banyak lagi lainnya teknologi hijau, atau teknologi ramah lingkungan yang sedang dikembangkan pada masa sekarang.

Semua ini lahir akan kesadaran bahwa kalau tidak segera dilakukan suatu waktu umat manusia juga yang akan rugi. Generasi mendatang akan menderita lebih banyak kalau generasi saat ini hanya berpikir tentang pemenuhan kebutuhan saja.

Kehadiran teknologi hijau ini diharapkan dapat membantu manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya saat ini sambil tetap menjaga kelestarian lingkungan.

Bukan sesuatu yang mudah dan bisa dilakukan seperti membalik telapak tangan, tetapi kalau tidak segera diupayakan, maka keseimbangan “kebutuhan vs kelestarian” tidak akan pernah ditemukan.