Prinsip Kerja Bank Sampah : Sampah Sebagai Mata Uang

Banyak pemerintah daerah di Indonesia yang belakangan ini gencar mendorong pendirian bank sampah di wilayah yang dikelolanya. Tujuannya adalah untuk memecahkan masalah pengelolaan timbunan sampah yang setiap harinya terus meningkat.

Sayangnya, respon dari masyarakat sendiri masih adem ayem saja, tidak antusias. Sebagian dari ini merupakan hasil dari kecenderungan menganggap urusan sampah adalah urusan pemerintah. Tetapi, sebagian lagi disebabkan karena mereka tidak melihat “keuntungan” dari hadirnya sebuah bank sampah. Keuntungan dalam hal ini tentu saja dalam bentuk materi, alias uang, sesuatu yang selalu menjadi daya tarik bagi manusia untuk terlibat.

Tidak banyak yang menyadari tentang prinsip kerja bank sampah yang pada akhirnya menghadirkan ketidak mengertian bahwa sebuah bank sampah, jika dikelola secara benar dan profesional pada akhirnya bisa menyediakan keuntungan dalam bentuk materi, selain tentunya manfaat lain berupa berkurangnya timbunan sampah di lingkungan.

“Masak setor sampah, kok bisa dapat uang?” adalah kalimat umum yang mencerminkan ketidakpercayaan bahwa bank sampah bisa memberikan profit bagi mereka tidak bedanya dengan bank di bidang keuangan.

Darimana bank sampah mendapatkan uang untuk penyetor? Padahal mereka hanya mengumpulkan sampah saja. Tentunya, berbeda dengan bank umum yang sudah terlihat jelas kalau penyetor memasukkan uang ke dalam rekening, bank sampah hanya mengumpulkan setoran berupa barang tidak berguna.

Bagaimana Sebenarnya Prinsip Kerja Bank Sampah?

Sederhana.

Sebenarnya semua orang sudah pernah, dalam kehidupan sehari-hari, melihat cara kerja sebuah bank sampah. Hanya saja, mayoritas tidak menyadari bahwa hal yang sama diterapkan dalam pengelolaan bank sampah hingga menghasilkan uang.

Dalam sistem kerja sebuah bank sampah, akan ada 3 pihak yang terlibat.

1) Penyetor : Masyarakat alias nasabah yang merupakan sumber sampah yang akan dikelola oleh sebuah bank sampah. Biasanya perorangan.

2) Bank Sampah : Kelompok yang bertugas menerima dan kemudian mengolah sampah dari penyetor dan menjualnya kepada pihak-pihak yang bisa memanfaatkan sampah

3) Pembeli : Mereka yang membeli sampah yang dikelola oleh sebuah bank sampah. Bisa perorangan dan bisa juga sebuah perusahaan.

Cara Kerja Bank Sampah

a) Seorang penyetor akan membawa sampah-sampah rumah tangga yang sudah dipilah dan dipilih agar sesuai dengan kriteria yang ditetapkan bank sampah

b) Bank sampah menetapkan harga sampah yang diterima berdasarkan jenis atau ukurannya. Ketika seorang penyetor membawa sampah, maka petugas bank sampah akan menimbang dan memberi harga atau nilai nominal berdasarkan patokan harga yang sudah ditetapkan.

c) Bank sampah akan memberikan buku tabungan persis seperti buku tabungan yang diberikan oleh bank umum. Buku ini untuk mencatat berapa setoran sampah yang sudah dilakukannya, tentunya nilai nominalnya saja (dalam rupiah)

Lalu, darimana bank sampah mendapatkan uang untuk membayar para penyetor?

Tugas bank sampah bukan sekedar menerima dan mengumpulkan. Bank sampah harus juga bisa menjual.

Kelompok yang bertugas sebagai bank sampah harus memiliki saluran atau channel ke pihak-pihak yang mau membeli sampah-sampah yang mereka kumpulkan, seperti pabrik biji plastik yang bisa memerlukan sampah plastik sebagai bahan bakunya, atau pabrik kertas daur ulang yang biasa menggunakan kertas bekas sebagai bahan dasarnya.

Jadi, bank sampah harus memiliki saluran untuk menjual kembali sampah-sampah yang sudah dikumpulkan dair penyetor. Tentunya, saat mereka menjual kepada pembeli, mereka akan menambahkan profit di dalamnya untuk membayar biaya yang dikeluarkan dan gaji petugas. Jika mereka menerima dari penyetor seharga Rp. 1.500/Kg untuk koran bekas, maka mereka menjual seharga Rp. 2.500/Kg.

Mirip kan dengan prinsip kerja bank umum. Bedanya hanya penyetor memasukkan sampah dan bukan uang. Itu saja.

Keuntungan Ada Bank Sampah di Sebuah Lingkungan

Banyak sekali manfaat bagi masyarakat dan lingkungan dengan keberadaan bank sampah di sebuah wilayah.

  1. Masyarakat bisa mendapatkan tambahan penghasilan dari benda-benda yang tidak dipergunakan
  2. Lingkungan menjadi rapi dan bersih karena masyarakat di wilayah itu akan terbiasa dan tergerak menukarkan benda-benda tak berguna menjadi uang. Meskipun tidak besar, tetapi sedikit demi sedikit maka nilai tabungan mereka akan bertambah jika dikumpulkan
  3. Masyarakat akan terbiasa untuk memilah sampah karena salah satu syarat yang umum diterapkan bank sampah adalah sampah yang disetorkan sudah dipilah sesuai jenisnya
  4. Jumlah sampah yang dibuang ke lingkungan berkurang karena ada sebagian yang dimanfaatkan atau didaur ulang
  5. Membuka lapangan kerja karena sebuah bank sampah akan membutuhkan orang-orang untuk mengelolanya dan tentunya mereka perlu digaji

Hal-hal seperti inilah yang membuat banyak pemerintah daerah giat sekali menyerukan pendirian sebanyak mungkin bank sampah di dalam wilayahnya. Jika hal tersebut bisa terwujud keuntungan berlipat bisa diperoleh oleh masyarakat.

Share tulisan ini untuk membantu lingkungan

admin

Related post