Peternakan Mengancam Atmosfir Bumi Lewat Emisi Rumah Kaca

Peternakan Mengancam Atmosfir Bumi Lewat Emisi Rumah Kaca

Serba salah memang. Untuk menyeimbangkan antara kebutuhan manusia dan keinginan untuk menjaga lingkungan agar tidak tercemar memang bukan hal yang mudah.

Salah satu contoh paling sederhana ada pada fakta bahwa Indonesia termasuk negara dengan konsumsi daging terendah di dunia. Pada tahun 2017 saja, rata-rata, orang Indonesia hanya makan 2,7 kilogram daging saja. Padahal, menurut Organisasi Pangan Dunia-FAO (Food And Agriculture Organization)- untuk menghindari malnutrisi atau kekurangan nutrisi, seorang manusia harus mengkonsumsi daging (atau protein hewani) setidaknya 7,3 kilogram.

Pemerintah Indonesia sendiri menargetkan dalam 5 tahun ke depan sejak 2019, angka ini bisa ditingkatkan menjadi 5 kilogram/tahun/orang. Hampir dua kali lipat. Targetnya agar masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang sehat.

Masalahnya, untuk menyediakan daging tersebut, ternyata dampak buruknya terhadap bumi juga sangat besar dan berbahaya. Sebab, salah satu sumber protein yang disukai adalah daging sapi yang berasal dari peternakan dan, ternyata, peternakan mengancam atmosfir bumi lewat emisi rumah kaca.

Tahukan Efek Rumah Kaca yang menyebabkan perubahan iklim dan pemanasan global? Nah, salah satu penyumbang terbesarnya ternyata ada di peternakan.

Bukan mengada-ada, tetapi sebuah fakta. Berbagai badan dan organisasi dunia sudah melakukan penelitian terhadap hal ini. Hasilnya menunjukkan bahwa peternakan merupakan penyumbang emisi rumah kaca yang besar. Emisi yang dilepas ke atmosfer bumi ini berasal dari jutaan peternakan yang ada di dunia.

Angkanya terus meningkat seiring berkembangnya bisnis peternakan dan jumlah hewan ternak yang terus bertambah.

Peternakan Mengancam Atmosfir Bumi Lewat Emisi Rumah Kaca 2

Sumber Emisi Rumah Kaca di Peternakan

Pada dasanya semua peternakan menjadi penyumbang emisi rumah kaca dan mengancam atmosfer bumi. Hanya saja, peternakan yang menjadi sorotan utama adalah mereka yang mengembangbiakkan/memelihara ruminansia atau hewan pemamah biak, seperti sapi, kuda, kambing.

Dua jenis gas rumah kaca yang dihasilkan dari peternakan adalah

  1. Metana (CH4)
  2. Nitrous Oksida (N2O)

Keduanya meski secara volume lebih rendah dibandingkan karbondioksida di atmosfer memiliki sifat yang lebih berbahaya. Metana menyerap panas 25x lipat dibandingkan CO2 (Karbondioksida) dan yang kedua 310 kali kemampuan karbondioksida dalam merusak ozone.

Kedua jenis gas rumah kaca ini banyak dihasilkan di peternakan sebagai hasil dari proses alami hewan ternak. Sumbernya adalah

1. Proses memamah biak (rumen)

Rumen adalah bagian dari pencernaan hewan ruminansia dimana terdapat berbagai bakteri yang membantu proses fermentasi dari makanan yang ditelan sapi atau kerbau.

Masalah utamanya adalah setiap proses fermentasi akan menghasilkan emisi rumah kaca dalam bentuk CH4 (Metana).

Gas ini kemudian dikeluarkan melalui sendawa atau kentut hewan tersebut.

Bila hanya satu dua tentu tidak memberi pengaruh terlalu banyak, tetapi di dunia ada puluhan juta sapi, kerbau, kuda, domba (Selandia Baru punya 30 juta domba).

2. Pembusukan Kotoran

Penambahan gas metana di atmosfir bertambah karena kotoran terna yang ditumpuk pun akan membusuk dan setiap pembusukan menghasilkan gas yang sama, Metana.

Terlebih lagi, bakteri yang ada dalam kotoran ternak juga menghasilkan gas Nitrous Oxide (dinitrogen dioksida – N2O)

Itulah mengapa banyak pihak, bahkan sebuah organisasi dunia sekelas FAO merasa perlu terjun langsung untuk menemukan solusinya.

Di satu sisi peternakan merupakan hal penting bagi ketersediaan pangan umat manusia. Di sisi lain, jika sistem peternakan yang ada sekarang terus dilanjutkan, hampir pasti penumpukan gas-gas berbahaya di atmosfer akan terus terjadi dan kerusakan ozone serta perubahan iklim akan semakin dipercepat.

Oleh karena itu, banyak organisasi dunia dan pemerhati lingkungan menyerukan agar dilakukan beberapa langkah dilakukan untuk mengurangi ancaman “peternakan” terhadap atmosfer bumi, seperti

  1. Perubahan manajemen peternakan yang lebih baik, seperti pengelolaan limbah kotoran yang tidak menyebabkan metana tersebar ke alam
  2. Pemberian makan ternak yang mengurangi efek fermentasi yang keluar lewat sendawa dan kentut sapi
  3. Pemanfaatan kotoran ternak sebagai penghasil listrik

Ini juga salah satu dasar dari banyak seruan agar manusia berubah menjadi vegetarian saja. Pemikirannya, kebutuhan daging berkurang, tidak perlu terus mengembangkan ternak ruminansia dan bahaya yang ditimbulkannya akan berkurang juga.

Maukah Amda? Atau, lebih baik makan ikan saja? Karena pastinya ikan tidak memamah biak dan mengeluarkan metana.