Perlukah Pajak Sedotan Plastik? Menurut British Waste Perlu

pajak sedotan plastik 2

Kalau orang Indonesia mendengar hal ini, tentunya mayoritas akan terbahak-bahak dan menggerutu bahwa yang mengusulkan sudah kehilangan akalnya. Tetapi, kenyataannya memang ada pihak yang beranggapan bahwa mengenakan pajak sedotan plastik itu diperlukan.

British Waste, sebuah perusahaan pengelolaan limbah di negeri Ratu Elizabeth ini beranggapan bahwa sudah saatnya dan memang sudah seharusnya untuk setiap sedotan plastik, para penggunanya dikenakan pajak sebesar 5 pence (1 pence = 1/100 Poundsterling. Dalam rupiah nilainya sekitar 1000 rupiah dengan nilai tukar saat ini).

Tidak main-main. Perusahaan ini akan mengajukan usulan tentang hal itu kepada pihak yang berwenang di Inggris.

Alasan pengajuanpun sangat masuk akal dan bukan sekedar mencari popularitas.

Bayangkan saja, di Amerika Serikat, setiap harinya 500 juta sedotan plastik dibagikan kepada para pembeli minuman di negeri tersebut. Lima ratus juta buah! Dan setiap hari.

Sedotan Plastik Adalah Musuh Lingkungan (Juga)

Plastik memang berguna, tetapi ia menimbulkan dampak yang sangat berat terhadap lingkungan. Sifatnya yang susah terurai secara alami membuatnya menjadi salah satu benda pencemar paling banyak di dunia. Belum lagi jika dipertimbangkan saat terurai zat-zat kimia berbahaya pun meracuni tanah.

Sedotan pun tidak berbeda dalam hal ini. Bagaimanapun bentuknya, mayoritas sedotan yang diproduksi saat ini terbuat dari plastik, karena murah dan mudah dibentuk dan semua plastik berbahaya bagi lingkungan.

Di banyak negara maju, sudah banyak dikeluarkan aturan bahwa pembeli yang menginginkan kantung plastik harus membayar untuk itu. Secara teori, harga kantung plastik ini kemudian dipergunakan untuk mengelola berbagai limbah dari plastik.

British Waste menyebutkan bahwa pajak yang sama seharusnya juga diterapkan pada sedotan plastik karena pada dasarnya resiko yang terkandung di dalamnya sama, meskipun ukurannya lebih kecil.

Berdasarkan pemikiran yang sama, sebuah bar di Brooklyn, Amerika Serikat tidak lagi memberikan sedotan plastik untuk setiap minuman yang terjual. Dengan kebijakan barunya ini, bar tersebut mengurangi sekitar 1,5 juta sampah plastik berupa sedotan setiap tahunnya.

Bagaimana bagi mereka yang terbiasa memakai sedotan?

Bagi mereka yang sudah terbiasa memakai sedotan, memang susah rasanya menghilangkan sebuah kebiasaan, pastilah rasanya tidak enak sekali minum, terutama minuman dingin tanpanya. Untuk itu bar Freehold menyediakan “sedotan kertas”.

Fungsi sedotan kertas tidak berbeda dari sedotan plastik, tetapi sifat kertas yang berasal dari bahan organik lebih menguntungkan dibandingkan plastik. Kertas bisa terurai secara alami di alam dan lebih seidkit mencemari lingkungan.

Tetapi, British Waste memberikan solusi yang lebih sederhana “PERGUNAKAN BIBIR UNTUK MINUM. HANYA ANAK DI BAWAH USIA 8 TAHUN YANG MEMERLUKAN SEDOTAN UNTUK MINUM”. Sebuah pernyataan yang banyak benarnya.

Mengapa harus menggunakan plastik padahal minum itu bisa dilakukan dengan cara yang lebih sederhana, dan tentunya tanpa harus mengotori lingkungan dengan sampah benda yang hanya lama “hidupnya” hanya kira-kira 20 menit saja.

Bagaimana di Indonesia? Mungkinkah menerapkan pajak sedotan plastik? Yah, rasanya masih jauh dari itu. Bahkan untuk sekedar membayar Rp. 200 untuk kantung plastik saja, banyak masyarakat yang lebih suka ribut mempertanyakannya.

Tags:
author

Author: