Naik Kendaraan Umum Merupakan Tindakan Ramah Lingkungan

Naik Kendaraan Umum Merupakan Tindakan Ramah Lingkungan

Mungkin akan banyak yang menertawakan jika ada yang mengatakan bahwa naik kendaraan umum merupakan tindakan ramah lingkungan.

Kebanyakan akan menganggap hal tersebut adalah karena sebuah kebutuhan saja. Tidak semua orang memiliki harta cukup untuk membeli kendaraan pribadi, seperti mobil atau motor.

Apalagi kendaraan umum yang beroperasi di Indonesia masih banyak yang belum memenuhi kriteria sebagai ramah lingkungan. Contohnya saja angkot (angkutan kota), mikrolet yang kebanyakan sudah uzur , atu metromini yang tidak jarang mengeluarkan asap hitam.

Bagaimana naik angkutan umum yang seperti ini disebut sebagai ramah lingkungan?

Pada kenyataannya, bahkan jika anda naik taxi sendirian sekalipun, Anda sudah berpartisipasi dan berkontribusi terhadap lingkungan kita. Pengaruhnya juga ada bagi kesehatan atmosfir dan ozone bumi, meski tidak terlihat.

Coba saja bayangkan hal-hal berikut ini.

Jumlah Pencemar Berkurang

Ada berapa juta sepeda motor dan mobil pribadi di indonesia? Tahukah Anda?

Pada tahun 205 angkanya berkisar antara 85-86 juta unit sepeda motor dan hampir 11 juta mobil yang beroperasi.

Bisa bayangkan berapa gas polutan yang dibuang ke udara oleh kendaraan sebanyak itu?

Kalau satu juta orang saja beralih dari menggunakan kendaraan pribadi, baik motor atau mobil, ke kendaraan umum, hasilnya adalah berkurangnya jumlah gas berbahaya yang dibuang ke udara.

Mengurangi Penggunaan Bahan Bakar

Sepeda motor membutuhkan 1 liter untuk menempuh jarak sekitar 40-60 kilometer. Biasanya dalam sehari pengguna paling tidak mengeluarkan 2 liter untuk berbagai keperluan.

Kalau satu juta sepeda motor saja disimpan di garasi dan pemiliknya beralih menggunakan bus, angkot, atau kereta, akan ada penghematan perhari 1-2 juta liter bensin.

Hal yang sangat berharga mengingat cadangan minyak bumi di Indonesia yang sudah semakin menipis.

Rasio polutan perkapita akan berkurang

Setiap manusia dalam menjalani kehidupannya akan menghasilkan polutan atau sesuatu yang mencemari lingkungan. Salah satunya adalah gas buang kendaraan.

Memang, sebuah angkot atau bus yang tidak pernah di-kir tetap akan mengeluarkan asap yang mengotori udara. Tetapi, jika semakin banyak orang yang naik di atasnya, maka rasio polutan per kepala akan berkurang.

Contohnya, bila sebuah metromini mengeluarkan setara 1 kilogram asap ke udara sekali jalan, jika penumpangnya hanya 30, maka setiap orang berarti menghasilkan polutan sebanyak 1/30 kilogram. Tetapi, jika ditambah Anda, maka setiap orang hanya bertanggungjawab terhadap 1/31 kilogram saja.

Semakin kecil.

Mengurangi potensi pencemaran

Salah satu hal yang merupakan sumber polusi udara tetapi sering diabaikan adalah kemacetan.

Kemacetan menyebabkan kendaraan tidak mencapai kapasitas maksimalnya yang berujung pada bertambahnya polutan untuk sesuatu yang sia-sia. Tidak efisien dan belum termasuk pemborosan sumber daya tanpa hasil.

Kalau 1 juta sepeda motor atau mobil disimpan di rumah saja, maka peluang kemacetan timbul akan berkurang. Dengan kata lain lalu lintas akan lebih lancar dan kemacetan berkurang.

Kemacetan berkurang berarti semakin efisien pemakaian bahan bakar dan rasio polusi perkepala akan menurun.

Itulah mengapa naik kendaraan umum merupakan salah satu bentuk tindakan ramah lingkungan. Apalagi kalau kendaraan umumnya sudah memenuhi kriteria ramah lingkungan.

Semuanya akan membuat kita semakin dekat dengan yang namanya green lifestye atau gaya hidup ramah lingkungan.

Berat? Pastilah. Masalah utamanya adalah kita juga butuh kenyamanan dalam bertransportasi. Dengan kendaraan umum yang masih belum nyaman dan mencukupi, angkutan massal ini jelas kalah jauh dibandingkan kendaraan pribadi.

Tetapi, bukankah bila kita menyayangi sesuatu kita bersedia berkorban untuknya? Kalau kita mengatakan mencintai lingkungan dan bersedia menjaganya, tidak bisakah kita mengorbankan sedikit kenyamanan agar bisa ikut berpartisipasi menjaga lingkungan?

Seharusnya bisa.

Bukan begitu Kawan?

author

Author: