Menghabiskan Makanan Juga Membantu Menjaga Lingkungan

Menghabiskan makanan membantu menjaga lingkungan 01

Pernah ingat nasehat orangtua di masa lalu agar anak mereka menghabiskan makanan mereka dan tidak menyisakan apapun di piring? Biasanya para orangtua yang lahir di sekitar tahun 1900-1960-an selalu mengingatkan keluarga mereka dengan kalimat ” Jangan sampai tidak dihabiskan, nanti Dewi Sri bisa marah dan kita tidak diberi rejeki lagi”.

Anak di era tahun 2000-an mungkin sudah tidak pernah mendengar hal seperti itu lagi, sayangnya.

Dewi Sri adalah mitos tentang seorang dewi penjaga padi yang berkaitan dengan asal usul keberadaan tanaman yang menjadi makanan pokok di banyak negara di kawasan Asia ini. Tentunya, mungkin kebenaran ada atau tidaknya sang dewi bisa diperdebatkan, walaupun banyak yang mengatakan hal tersebut hanya sebuah mitos saja.

Sayang sekali sebenarnya kisah kecil sederhana seperti itu hilang. Kalau saja belum, mungkin “kehadiran” sang dewi (dalam bentuk nasehat para ibu) bisa membantu menjaga lingkungan.

Banyak yang meremehkan hal ini, tetapi sebenarnya kebiasaan menghabiskan makanan adalah sesuatu yang bisa memberikan kontribusi mencegah tercemarnya lingkungan.

Coba saja bayangkan, jika para anak tidak dibiasakan menghabiskan apa yang ada di piring mereka.

Makanan menjadi sampah :  Mau tidak mau. Makanan sisa itu akan dibuang. Yang sadar akan membuangnya ke tempat sampah, tetapi yang tidak akan melemparkannya ke dalam selokan atau sungai (seperti masih banyak dilakukan orang). Sampah yang beredar bertambah.

Jika hanya satu orang tidak masalah, tetapi Indonesia memilik 250 juta orang dan puluhan juta diantaranya adalah anak-anak. Dengan asumsi satu anak satu piring saja, maka berarti akan ada tambahan satu juta piring sampah di setiap jam makan.

Pencemaran udara bertambah : Semua makanan adalah organik dan akan mengalami proses pembusukan yang menyebarkan gas metana ke udara. Gas yang terkenal sebagai salah satu gas penyebab efek rumah kaca ini akan selalu hadir dalam setiap penguraian benda organik yang mati.

Dengan bertambahnya sampah sisa makanan tak termakan, jumlahnya pun akan semakin bertambah pula.

Bau tak sedap : Namanya sampah, tidak ada yang tidak mengeluarkan bau tak sedap. Kehadirannya akan selalu beriringan dengan yang satu ini. Apalagi, jika penanganannya dilakukan secara tidak benar.

Pemborosan lingkungan : Nasi di masa kini sangat rakus pupuk dan juga pestisida. Untuk menghasilkan padi atau bahan makanan lain, petani akan menebar pupuk dan menyemprotkan zat kimia anti hama agar terserang dari wereng dan penyakit tanaman lainnya.

Tindakan ini sebenarnya menghasilkan pencemaran terhadap tanah, air, dan udara. Ongkos yang ditanggung lingkungan sudah dibayar di muka.

Nah, jika makanan tidak dihabiskan, maka apa yang ditanggung oleh tanah dan air menjadi tersia-sia tak berguna. Justru menjadi tambahan beban. Argumen bahwa makanan tersebut sudah dibayar, tetapi hal tersebut adalah sesuatu yang tidak benar. Yang dibayar tidak mencakup “ongkos” lingkungan.

Berdasarkan hal-hal inilah banyak restoran di negara maju, seperti Jerman yang mulai mengenakan “charge” atau biaya terhadap semua makanan yang tidak dihabiskan. Hal ini diharapkan akan membangun kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan dalam setiap sendi kehidupan manusia.

Menghabiskan makanan yang sudah kita pesan dan beli adalah kewajiban. Menyisakannya, selain pemborosan, juga menimbulkan masalah bagi lingkungan.

Jadi, jika hendak makan, ambillah secukupnya dan jangan sampai ada yang tersisa.