Mengenal Efek Rumah Kaca dan Kaitannya Dengan Pemanasan Global

efek rumah kaca dan dampaknya pada pemanasan global 03

Efek Rumah Kaca dan Pemanasan Global adalah dua istilah yang hingga saat ini masih menjadi istilah yang menjadi tren di dunia dewasa ini. Begitu pentingnya para pemimpin dari berbagai negara kerap membawanya dalam pertemuan antar mereka dan bahkan menjadi salah satu topik pidato yang cukup sering ditampilkan pada Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Mengapa Efek Rumah Kaca begitu mendapat perhatian? Apa kaitannya dengan Pemanasan Global atau Global Warming? Mengapa umat manusia harus begitu peduli terhadap kedua hal ini?

Pertanyaan-pertanyaan itu acapkali hadir di media massa dan dalam pemikiran masyarakat awam melihat gencarnya para pemimpin dan pemerhati lingkungan agar semua orang turut serta berperan untuk meminimalkan kehadiran.

Tetapi, sebenarnya apakah itu Efek Rumah Kaca? Keterkaitan apa yang ada diantara kedua istilah tersebut?

Tulisan singkat ini, mungkin bisa memberi gambaran tentang keduanya.

Apa Itu Efek Rumah Kaca?

apa itu efek rumah kaca

Bila mendengar tentang kata “Rumah Kaca” biasanya orang awam akan langsung membayangkan sebuah bangunan yang berdinding kaca dan dipergunakan sebagai area tempat menanam berbagai jenis tanaman. Tanaman bunga atau hias adalah yang paling sering ditanam dalam sebuah rumah kaca meskipun banyak jenis tanaman lain yang juga dikembangbiakkan di dalamnya.

Ini adalah pandangan umum.

Meskipun demikian, “rumah kaca” bisa juga diterjemahkan sebagai sebuah teknik untuk bercocok tanam terutama di area yang beriklim dingin. Banyak petani di Puncah, Bogor (dan banyak petani lain di kawasan berudara dingin), yang menggunakan plastik untuk menutupi deretan tanaman agar terhindar dari dinginnya udara pegunungan.

Mengapa rumah kaca dibangun? Mengapa petani di Puncak menutupi tanamannya dengan sungkup plastik?

Cara Kerja Rumah Kaca

Mayoritas tanaman tidak akan bisa bertahan lama dan hidup di suhu udara yang rendah. Hanya ada spesies-spesies tertentu saja yang dapat bertahan hidup di kawasan beriklim sub-tropis yang bertemperatur rendah.

Bercocok tanam di wilayah seperti ini merupakan tantangan sendiri. Pada siang hari memang sinar matahari akan menghangatkan permukaan bumi dan tanaman bisa tumbuh dan berkembang.

Tetapi, bagaimana ketika malam tiba? Suhu udara akan turun jauh dibandingkan siang hari. Bahkan di kawasan tropis sekalipun, malam hari akan terasa lebih dingin, bagaimana tanaman bisa hidup dalam suhu yang lebih rendah dan hawa yang dingin seperti itu?

Itulah guna rumah kaca (atau teknik rumah kaca).

Fungsinya adalah untuk menjaga kestabilan suhu di dalamnya agar tetap stabil sepanjang hari (24 jam). Dengan begitu, tanaman akan mendapatkan kondisi yang sama untuk dapat tetap hidup.

Hal tiu bisa terjadi karena pada malam hari, permukaan bumi akan melepaskan panas yang diserapnya di pagi dan siang hari dan menjadi dingin. Siklus yang akan terjadi setiap harinya.

Panas itu akan lepas jika tidak ada penghalangnya. Tetapi di dalam rumah kaca, panas itu akan tertahan oleh dinding-dindingnya yang terbuat dari kaca. Siang hari kaca akan membiarkan sinar matahari masuk dan emnghangatkan permukaan bumi, dan di malam hari dinding kaca tersebut akan menahan panas yang dilepaskan agar tetap bersirkulasi di dalam ruangan tersebut.

Dengan begitu, suhu di dalam rumah kaca akan tetap sama baik saat ada matahari atau tidak. Tanaman akan terhindar dari penurunan suhu udara dan bisa tetap hidup.

Itulah cara kerja dari sebuah rumah kaca.

efek rumah kaca dna pemanasan global

Bumi Sebagai Rumah Kaca

Bukankah kalau begitu Efek Rumah Kaca seharusnya bagus? Bukankah petani jadi bisa lebih produktif dan mendapatkan keuntungan dengan bisa bertanam dalam berbagai kondisi?

Yap, jika yang dibicarakan adalah rumah kaca.

Efek Rumah Kaca bukanlah tentang rumah kacanya sendiri. Juga, bukan karena terlalu banyak greenhouse yang didirikan di dunia sehingga bumi menjadi panas. Bukan sama sekali. Istilah ini hanya mengacu pada pola yang sama dengan apa yang terjadi di dalam sebuah rumah kaca. Polanya saja.

Hanya, panggungnya berbeda. Efek Rumah Kaca berkaitan dengan bumi, tempat dimana manusia tinggal.

Tentunya kita menyadari bahwa bumi dikelilingi oleh yang namanya atmosfir. Sebuah ruang “tak terlihat” yang menyelimuti bumi dan memiliki peran penting bagi kehidupan manusia.

mengenal efek rumah kaca

Atmosfir terdiri dari banyak jenis gas : Atmosfir yang menyelimuti bumi terdiri dari berbagai macam gas, dan bukan hanya oksigen (O2). Kandungan oksigen di udara hanya sekitar 21-23% dari keseluruhan. Sisanya terdiri dari berbagai macam gas seperti Ozone (O3), Karbondioksia (CO2), Metana (CH4), dan berbagai jenis gas lain.

Masing-masing memiliki fungsi sendiri. Ozone berfungsi menyerap sinar ultraviolet dari sinar matahari, tanpanya maka sinar matahari akan dapat membakar bumi. Oksigen diperlukan manusia untuk bernafas. Metana dan Karbondioksia memiliki sifat menyerap panas.

Atmosfir Menahan dan Menyerap Panas : Sinar matahari yang sampai ke muka bumi tidaklah 100% seperti yang dipancarkan oleh bintang tersebut. Paling tidak 30% diantaranya akan sudah dipantulkan ke arah yang berlawanan oleh atmosfir.

Dengan begitu panas sinar matahari tidak akan memanggan bumi dan manusia.

Tetapi, atmosfir juga berfungsi lain, yaitu menahan panas yang dilepaskan oleh permukaan bumi di malam hari, ketika tidak ada matahari. Mirip dengan fungsi kaca pada sebuah greenhouse atau rumah kaca. Bedanya, atmosfir tidak padat dan cukup renggang sehingga panas yang dilepaskan bumi akan perlahan-lahan melewatinya.

Dengan begini kestabilan suhu di antara permukaan bumi dan atmosfir akan cukup hangat dan nyaman untuk manusia, hewan, dan tumbuhan untuk hidup. Siklus yang terus berulang setiap harinya.

Bisa diibaratkan bumi adalah sebuah rumah kaca yang besar, dimana peran kaca digantikan oleh atmosfir. Tidak seratus persen sama karena kaca adalah benda padat sedangkan atmosfir renggang.

Polusi Udara Menghadirkan “Efek Rumah Kaca”

 

Permasalahan hadir ketika manusia menciptakan kendaraan bermotor dan pabrik untuk menunjang kehidupan mereka.

Keseimbangan di dalam atmosfir terganggu.

Kendaraan bermotor yang dipergunakan manusia untuk berpindah tempat menghadirkan tambahan berbagai jenis gas, seperti karbon monoksida, karbon dioksida. Begitu juga dengan pabrik-pabrik yang melemparkan jenis gas yang sama ke atmosfir. Ditambah dengan berbagai sampah buangan manusia yang ketika membusuk melepaskan metana ke udara.

Karbondioksida dan Metana adalah dua gas yang dikenal sebagai penyerap panas.

Pertambahan kedua jenis gas pemyerap panas dalam volume yang sangat besar, dan akan terus membesar seiring pertumbuhan jumlah manusia, mengganggu keseimbangan di atmosfir bumi. Jumlah gas penyerap panas menjadi “terlalu banyak”.

efek rumah kaca dan dampaknya pada pemanasan global 04

Komposisi gas yang tadinya “renggang” dan memiliki celah yang bisa dilewati panas hasil pelepasan permukaan bumi di malam hari menjadi semakin “padat“. Hasilnya, panas permukaan bumi menjadi sulit melewatinya. Panas tersebut akhirnya bersirkulasi di antara permukaan bumi dan atmosfir saja karena tidak bisa melewatinya.

Situasi yang mirip dengan sebuah rumah kaca bukan?

Itulah yang disebut dengan EFEK RUMAH KACA karena permukaan bumi menjadi mirip dengan kondisi sebuah rumah kaca, dimana panas bumi tidak bisa lepas keluar dan hanya bersirkulasi disana.

Sebagai efeknya, suhu di antara permukaan bumi dan atmosfir meninggi. Penelitian mencatat dibandingkan satu abad yang lalu suhu permukaan bumi, dimana manusia tinggal meningkat 0,6 – 0,9 derajat Celcius.

Dan, hal ini akan terjadi di seluruh permukaan bumi.

Itulah yang disebut sebagai PEMANASAN GLOBAL.

Apa Efek Pemanasan Global Bagi Manusia?

Jika Anda pernah tinggal di Jakarta dan merasa tidak nyaman karena udaranya terasa panas, tidaklah heran. Suhu rata-rata berada di antara 30-34 derajat Celcius.

Dalam kondisi seperti itu, manusia masih bisa tetap hidup dengan cukup “nyaman”. Tentunya akan lebih nyaman kalau temperaturnya berada di kisaran 20-25 derajat saja, tetapi manusia masih bisa bertahan hidup hingga suhu 55 derajat, tentunya dengan suplai air yang cukup agar tidak dehidrasi.

Itu secara teori.

Kenyataannya, pada tahun 2015 terjadi gelombang panas di India yang menewaskan lebih dari 2.500 orang. Pada saat itu suhu hembusan angin hanya berada pada kisaran 45-47 derajat saja, masih di bawah teori dan hanya berlangsung selama beberapa hari saja, antar 25 Mei hingga 3 Juni.

efek rumah kaca dan dampaknya pada pemanasan global 01Bisa bayangkan ketika suhu mencapai 55 derajat? Dan, terjadi terus menerus sepanjang tahun. Dapat dipastikan akan lebih banyak korban yang jatuh.

Hal itu bisa diprediksi akan terjadi suatu waktu, jika manusia terus menambah gas penyerap panas, Karbondioksida dan Metana ke atmosfir. Suatu waktu permukaan bumi akan menjadi semakin panas hingga tidak akan menjadi tempat yang nyaman untuk ditinggali dan dihuni, bukan hanya manusia, tetapi juga berbagai makhluk hidup lainnya.

Masih jauh? Mungkin, jika kita berpikir kalau hanya ada peningkatan suhu 0,6 – 0,9 derajat setiap satu abad, tentunya masih cukup lama sekali untuk mencapai titik dimana bumi tidak bisa ditinggali lagi.

Meskipun demikian, bahaya itu sebenarnya sudah lebih dekat dari perhitungan di kalkulator.

Pernah mendengar gunung es B-15? Sebuah gunung es di Benua Antartika yang merupakan salah satu yang terbesar. Ukurannya mencapai 11.000 kilometer persegi, atau kira-kira 100 kali luas Kota Bogor dan 20 kali luas Jakarta. Gunung es ini memiliki panjang 296 kilometer dan lebar 37 kilometer.

Prinsip dasar sederhana adalah es akan mencair ketika terkena suhu tinggi, panas. Nah, mungkin bisa dibayangkan ketika suhu permukaan bumi meningkat, dan tentunya Antartika juga akan terkena, maka gunung es ini dipastikan akan MENCAIR.

Dan, B-15 hanya satu dari banyak gunung es raksasa di benua paling Selatan itu.

Jika, semua mencair akibat Pemanasan Global, hasilnya adalah bumi akan mendapat tambahan air dalam volume yang luar biasa besar. Permukaan air dunia akan bertambah lebar dan menenggelamkan daratan.

Hal itu pernah terjadi di masa silam, ketika panas bumi meningkat. Sebagai hasilnya, adalah berakhirnya Zaman Es di bumi dan punahnya dinosaurus.

Sebuah hal yang mungkin akan terulang jika pemanasan global tidak dicegah.

Bisakah Efek Rumah Kaca Dikurangi dan Pemanasan Global Dicegah?

Bisa dan harus bisa.

Jika tidak bisa dicegah, maka yang ada adalah kepunahan spesies manusia. Situasinya mungkin seperti film populer “2012” dimana dunia kiamat dan air menghancurkan segalanya.

Caranya, manusia harus berusaha mengurangi berbagai polusi udara agar keseimbangan gas di atmosifr tetap terjaga. Atmosfir harus tetap renggang supaya panas permukaan bumi bisa tetap lewat dan suhu permukaan bumi tidak terus meninggi.

Untuk mengurangi efek rumah kaca dan menghindarkan pemanasan global tidak bisa dilakukan oleh satu dua negara saja. Semua negara dan umat manusia di bumi harus ikut serta didalamnya.

Usaha-usaha penemuan energi alternatif untuk menekan polusi udara dan bertambahnya gas penyerap panas harus terus diusahakan. Pengelolaan sampah, seperti daur ulang dapat mengurangi pembusukan yang akan melepas gas metana (penyerap panas) ke udara.

Semua individu harus ikut serta, bahkan dengan melakukan hal-hal kecil seperti membuang sampah di tempatnya, atau menghabiskan makanan di piring pun bisa memberikan efek yang membantu mengurangi polusi udara. Lebih jauh lagi, menggunakan angkutan umum atau sepeda dibandingkan kendaraan pribadi jelas akan sangat memberikan pengaruh pada atnosfir kita.

Jadi, kawan pembaca, jika ingin ikut serta mengurangi, lakukan apa yang bisa kita lakukan. Mungkin naik sepeda ke kantor tidak akan berpengaruh banyak, jika dilakukan sendiri saja, tetapi jika 10 juta orang meninggalkan mobilnya dan beralih ke sepeda, ada berapa banyak gas penyerap udara yang tidak dilepaskan ke atmosfir?

Bukan begitu?

Sharing is caring!

Tags:
author

Author: