Mengapa Tidak Ada Tempat Sampah di Commuter Line ?

Mengapa di Commuter Line Tidak Ada Tempat Sampah

Commuter Line adalah nama keren atau populer terutama di masyarakat yang tinggal di kawasan Jabodetabek (Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi). Setiap hari lebih dari satu juta orang berhubungan dengan dan memakai jasa sarana transportasi yang satu ini.

Sudah sejak lama sarana transportasi ini ada, tetapi dulu namanya berbeda. Di masa lalu namanya disebut dengan KRL (Kereta Rel Listrik) Jabodetabek.

Bedanya hanyalah bahwa pelayanan dari transportasi umum yang populer disebut CL ini jauh lebih baik dalam berbagai hal. Bila dulu orang mendengar KRL Jabodetabek yang terbayang adalah kereta tua, yang sering mogok, tanpa pintu dan jendela serta kotor, ketika nama CL disebut maka yang terbayang adalah kereta komuter yang bersih dan terlihat enak dipandang mata.

Padahal, tahukah Anda bahwa tidak ada satupun tempat sampah yang ada di dalam kereta (atau gerbong sebutan umumnya) Commuter Line. Ya, tidak ada. Silakan berjalan dari ujung ke ujungrangkaian kereta CL  dan tetap saja tidak akan ditemukan tempat untuk Anda membuang sampah di atasnya.

Apakah pihak pengelola Commuter Line, PT KCI (Kereta Commuter Indonesia) lalai menyediakan sesuatu yang sangat penting bagi lingkungan?

Tidak sama sekali. Karena ada satu hal yang membuat peletakkan tempat sampah dalam kereta sesuatu yang tidak diperlukan sama sekali. Hal itu adalah bahwa di atas Commuter Line dilarang makan dan minum dan berdagang.

Salah satu hal yang menjadi biang keladi dari kotornya KRL Jabodetabek di masa lalu adalah kebiasaan masyarakat penggunanya yang gemar membuang sampah ke lantai kereta. Hal itu lahir karena pada saat itu kereta komuter Jabodetabek itu bukan hanya tempat untuk penumpang, tetapi juga untuk pedagang.

Bukan sebuah hal yang aneh di masa itu, dan menjadi kenangan tersendiri, melihat pedagang makanan dan minuman, serta buah-buahan berlalu lalang dari ujung ke ujung. Penumpang harus berebut lahan dengan mereka yang mencari nafkah dengan berjualan.

Ditambah dengan kebiasaan membuang sampah sembarangan, suasana kereta menjadi kotor layaknya sebuah pasar becek. Penuh dengan plastik pembungkus, kulit buah-buahan, sampai sisa makanan dan pembungkusnya.

Hal itu tidak terjadi lagi karena dengan adanya larangan untuk makan dan minum di atas CL, tidak ada lagi sampah yang harus dibuang oleh penumpang. Kalaupun mereka membawa makanan, mereka tidak diharapkan untuk makan di atas kereta, tetapi sebelum atau setelah naik kereta.

Larangan berdagang bagi siapapun juga membantu menghilangkan sumber sampah di atas kereta yang dulunya berasal dari para pedagang.

Kebiasaan baru akhirnya terbentuk pada masyarakat pengguna. Secara perlahan mereka terbiasa tidak makan dan minum di atas kereta. Jika dulu makan dan minum adalah sebuah hal yang biasa, justru di saat sekarang, melakukan kegiatan itu di atas CL bisa mengundang cibiran dari penumpang lainnya karena di hampir setiap sudut kereta terpampang dengan jelas larangan untuk makan dan minum.

Hanya pada saat bulan puasa saja larangan itu diberi pengecualian, yaitu di saat berbuka puasa saja.

Sebuah hal yang pada akhirnya membuat kehadiran tempat sampah di dalam Commuter Line menjadi tidak diperlukan.

Dan, hingga hari ini, kebersihan Commuter Line jelas sangat jauh lebih baik daripada di masa KRL Jabodetabek dulu.

Bukan karena pengelola lalai, tetapi karena kebiasaan dan kehidupan di atas kereta komuter itu sudah berubah.

Sharing is caring!

Tags:
author

Author: