Mengapa Harga Bahan Makanan Organik Lebih Mahal Dari Yang Non Organik?

Sejak beberapa tahun belakangan ini, permintaan terhadap produk bahan makanan organik di Indonesia cenderung meningkat setiap tahunnya. Rupanya promosi yang lumayan gencar dari para produsen produk organik dan banyaknya juga persepsi yang terbentuk dalam masyarakat bahwa bahan makanan organik lebih sehat dan lebih baik dari yang konvensional mendorong peningkatan permintaan.

Meskipun demikian antusias masyarakat untuk mengkonsumsi produk organik, seperti sayuran, beras, dan lain sebagainya, sedikit teredam ketika mereka melihat label harga yang tertera. Banyak dari calon pembeli yang kemudian mundur karena mereka menemukan bahwa harga bahan makanan organik, baik di pasar, supermarket, atau yang dijual eceran, jauh lebih tinggi dibandingkan barang sejenis tetapi yang non organik. Selisih antara yang organik dan yang non ternyata cukup mahal dan bisa mencapai 30-40%.

Mengapa bisa demikian? Mengapa yang seharusnya “lebih murah” kok dijual dengan harga yang lebih tinggi?

Tetapi, sebenarnya kalau kita mengetahui bagaimana bahan makanan organik diproduksi, tentunya tidak akan heran dengan hal ini. Ada banyak alasan yang memang pada akhirnya membuat harga bahan makanan organik menjadi tinggi dan lebih mahal dibandingkan versi non organiknya.

Coba lihat hal-hal seperti ini.

Alasan Mengapa Harga Bahan Makanan Organik Lebih Mahal

Sertifikat Organik Tidak Gratis

Tidak ada gratis di masa sekarang. Bahkan untuk sertifikat organik, setiap petani atau peternak harus mengeluarkan uang cukup banyak. Sertifikat yang harus diperpanjang setiap tahunnya ini membutuhkan biaya setidaknya 12 juta pertahun.

Sertifikat ini diperlukan dan dikeluarkan badan khusus karena setiap produk organik memang harus memenuhi kriteria tertentu agar bisa mencantumkan label organik pada kemasannya.

Tentunya, ongkos pembuatan atau pembaharuan sertifikat akan dimasukkan ke dalam harga jual.

Hasil Produksi Sedikit dan Waktu Lebih Lama

Mengapa produsen bahan makanan organic biasanya menghasilkan dalam jumlah lebih sedikit dibandingkan yang konvensional? Bukankah sama saja? Tidak juga.

  1. Kebanyakan produsen bukanlah perusahaan. Biasanya produsen produk organic adlaah petani atau pengusaha kecil yang memiliki lahan atau alat produksi yang terbatas. Padahal jumlah yang banyak dan besar akan bisa menekan biaya produksi dan berujung pada rendahnya harga jual
  2. Waktu produksi lebih lama, mau tidak mau seorang petani padi organik tidak akan bisa menghasilkan secepat petani biasa, Pertanian organik harus menghindari pupuk keluaran pabrik dan hanya bisa mengandalkan pada pupuk alami yang terkadang suplainya juga terbatas. Hasilnya, waktu yang diperlukan untuk memasuki masa panen cenderung lebih panjang.
  3. Produk di bawah standar lebih banyak. Jarang masyarakat mau membeli kol atau kubis atau kangkung yang daunnya mulus tanpa bolong-bolong akibat termakan ulat. Itu standar yang diminta masyarakat dan took penjual dari mereka. Sayangnya, untuk membasmi hama, seperti ulat, mereka hanya bisa mengandalkan pada pestisida organik yang daya bunuhnya kalah jauh dibandingkan pestisida keluaran pabrik. Hasilnya, banyak hama yang tetap bertahan dan menggerogoti tanaman. Hasilnya, banyak hasil panen yang tidak memenuhi standar yang diminta, secara total, jumlah yang dihasilkan menyusut.

Jadi, hasil produksinya masih kalah dibandingkan produk konvensional yang membuat biaya produksi secara total menjadi lebih tinggi.

Mengapa Harga Bahan Makanan Organik Lebih Mahal Dibandingkan Yang Non Organik 2

Bahan Pangan Organik Ditargetkan Untuk Kalangan Tertentu

Bukan secara sengaja, tetapi tidak semua orang merasa perlu untuk mengkonsumsi segala sesuatu yang organik. Biasanya mereka yang menyukainya berasal dari kalangan yang sadar tentang bahaya pestisida, bahan kimia yang dipergunakan pada produksi bahan pangan secara konvensional.

Mereka-mereka yang seperti itu biasanya berasal dari kalangan menengah ke atas dan masyarakat yang berada di  level ini cenderung memiliki daya beli yang kuat.

Oleh karena itu, banyak produsen, petani, bahkan toko atau supermarket yang menjualnya mentargetkan secara spesifik pada kalangan ini. Mereka tidak merasa perlu menurunkan harga mengingat daya beli kalangan menengah ke atas cukup kuat dan mayoritas dari mereka lebih memprioritaskan kesehatan dibandingkan menghemat uang.

Kebijakan Berpihak Pada Produsen atau Petani

Bukan hanya itu saja. Banyak pemerintah dan negara mempergunakan produk makanan organik sebagai kebijakan untuk membantu meningkatkan kesejahteraan produsen atau petaninya.

Bila seikat kangkung biasa harga jualnya hanya Rp. 1000, seikat kangkung organik bisa mencapai Rp. 3000. Dengan begini petani juga akan senang karena mereka mendapatkan lebih dari sesuatu yang sama.

Hal ini bisa membantu untuk meningkatkan kehidupan petaninya.

Produk Premium

Mengingat produsennya masih sedikit dan produksinya belum terlalu mahal, sebuah produk menjadi berbeda dari kebanyakan.

Banyak penjual bahan makanan organik memperlakukannya sebagai sesuatu yang “berbeda” dan memiliki nilai tambah. Mereka menempatkannya sebagai sebuah produk premium dan pembeli harus mau membayar lebih dari yang biasa didapat.

Dengan tambahan sedikit kemasan yang terkesan “elit” atau “bagus”, maka kesan berbeda dan berharga mahal pun bisa ditancapkan dalam benak pembeli.

Persaingan Masih Rendah

Belum begitu banyak produsen atau petani yang mau terjun total ke dalam dunia organik. Kesulitan mengelolanya dan hasil yang didapat masih belum terlalu meyakinkan. Lagipula, banyak petani, peternak, dan produsen yang belum sepenuhnya yakin bahwa “go organc” atau memfokuskan pada produk organik bisa menguntungkan.

Hal ini menjadikan jumlah produsen belum banyak dan mereka yang sudah terjun masih menguasai pasar karena persaingan masih rendah. Mereka bisa menahan harga karena tidakterlalu khawatir ada pesaing yang menwarkan harga lebih murah.

Masih banyak hal lain yang berpengaruh terhadap harga jual sebuah produk, termasuk biaya angkut yang semakin banyak semakin murah, biaya promosi dan lain sebagainya. Jadi, tidak bisa disamaratakan pada semua produk yang dijual, tetapi poin-poin di atas setidaknya bisa menggambarkan mengapa harga bahan makanan organik lebih mahal dibandingkan yang non organik, setidaknya hingga saat ini.

Kecuali, jika di masa depan pertanian organik berkembang lebih luas dan pesat , serta persaingan tumbuh, saat itu barulah kita bisa berharap harga bahan makanan organik bisa sama dengan produk konvensional

Semoga saja bisa terjadi.

Share tulisan ini untuk membantu lingkungan

admin

Related post