Layanan Pesan Antar Makanan Membuat Orang Makin Tidak Ramah Lingkungan

“Anda lapar tapi sedang malas, pakai saja “G-FOOD!” . Kira-kira begitulah salah satu iklan yang gencar dipromosikan oleh salah satu perusahaan transportasi berbasis aplikasi. Iklan yang sama juga ditayangkan oleh pesaingnya.

Setelah merambah di dunia transportasi umum berbasiskan prinsip sharing, perusahaan-perusahaan tersebut menyediakan jasa layanan pesan antar makanan. Layanan ini menghubungkan calon pembeli dengan vendor dimanapun berada.

Tidak peduli posisi mangkal vendor hanya di amigos (agak minggir got sedikit) atau resto mewah, jasa layanan ini memudahkan orang untuk mengaksesnya.

Sebuah keuntungan dari kemajuan teknologi. Kemudahan dan akses untuk semua orang dipermudah. Bisnis pun berkembang dengan pesat dan perekonomian di level bawah juga membaik.

Semua terlihat memberikan keuntungan “hampir” bagi semua pihak.

Kata hampir diberi tanda kutip, kemudian sekarang diberi garis tebal dan dimiringkan, menandakan bahwa tidak semuanya mendapat keuntungan. Ada yang dirugikan dalam hal ini.

Coba saja lihat salah satu kemasan yang dikirimkan dari memanfaatkan layanan pesan antar makanan berbasis aplikasi. Dan, yang seperti ini merupakan standar dalam dunia bisnis ini.

Layanan-Pesan-Antar-Makanan-Membuat-Orang-Semakin-Tidak-Ramah-Lingkungan-A

Yap, plastik. Bahan yang tidak ramah lingkungan karena sulit terurai secara alami. Butuh puluhan hingga ratusan tahun supaya bahan ini bisa terurai di alam. Dan, kalau sudah terurai pun, partikel-partikel hasil penguraian pun akan mencemari tanah.

Kalau makanan, kemasan yang biasa dipergunakan adalah styrofoam, yang sama halnya, tidak bisa terurai secara alami di alam.

Kemudian, bayangkan saja sendiri di saat memesan makanan via layanan itu, biasanya sang pembawa akan menenteng

  1. Makanan dalam kemasan plastik/styrofoam (tidak jarang ada 2 atau tiga plastik dalam satu kemasan)
  2. Kantung Plastik

Kemudian, lanjutkan dengan membayangkan berapa ratus ribu (juta ??) kali transaksi terjadi setiap harinya. Tambahkan dengan transaksi yang terjadi pada vendor yang menyediakan layanan pesan antar sendiri, seperti beberapa resto siap saji terkenal.

Jangan lupakan juga polusi udara yang dikeluarkan oleh kurir saat menuju ke vendor dan membawa pesanan ke pemesan.

Semua memakai pola yang hampir sama untuk kemasan dan kantong pembawa, kecuali beberapa yang sudah berpikiran maju.

Jutaan kemasan plastik beredar setiap harinya di Indonesia yang kemudian akan menjadi sampah setelah isinya habis.

Bisakah kita tidak mengatakan bahwa layanan pesan antar makanan membuat orang menjadi lebih tidak ramah lingkungan?

Rasanya memang itu kenyataannya di Indonesia dimana lingkungan masih menjadi sesuatu yang belum masuk dalam pertimbangan saat melakukan sesuatu.

Mudah-mudahan saja, di masa depan, para vendor bisa menggunakan bahan kemasan yang lebih ramah lingkungan.

Share tulisan ini untuk membantu lingkungan

admin

Related post