Kesadaran Lingkungan : Dibangun Bukan Hadiah

Kok bisa ya Singapura seperti itu? Rapi, bersih. Nyaman sekali. Kok Indonesia tidak bisa seperti itu ya?

Keluhan bernada iri seperti itu tidak jarang terlontar dari mereka yang sudah berkesempatan pergi ke Negara Singa tersebut.

Kalau saya mendengar yang seperti itu, pingin rasanya langsung nyeletuk “Kesadaran lingkungan, mas, mbakyu” itu yang membedakan.

Kebersihan, kerapian, dan semua kenyamanan yang dirasakan oleh orang-orang disana adalah hasil dari sebuah sikap mental dan pola pikir yang sudah sadar lingkungan.

 

Mengapa Indonesia tidak bisa seperti itu ? Jawabannya adalah karena mindset masyarakat Indonesia masih tidak memasukkan kesadaran lingkungan sebagai bagiannya. Itulah yang membedakan kita dengan negara kecil tetangga itu.

Miris sebenarnya kalau melihat kenyataan seperti ini. Indonesia secara umur lebih tua dibandingkan negara dengan simbol Merlion atau duyung berkepala singa itu. Singapura baru menerima kemerdekaannya di tahin 1965, dua puluh tahun setelah Indonesia mendapatkannya.

Tetapi, dalam hal ini, dan cukup banyak bidang lainnya, Indonesia jauh tertinggal.

Bagaimana bisa? Apakah Singapura memang sudah seperti itu sejak merdeka? Apakah Inggris meninggalkan sebuah negara tersebut dalam kondisi senyaman itu pada saat memberikan kemerdekaan?

Jawabnya sama sekali tidak.

Singapura pada tahun-tahun awal kemerdekaannya pun menghadapi masalah yang serupa dalam hal lingkungan. Apalagi sebagai sebuah negara transit yang dikunjungi ribuan kapal dan pelaut, negara tersebut banyak orang dari berbagai negara dengan karakter yang bermacam pula.

Masalah kebersihan lingkungan adalah salah satu masalah yang dihadapi pemerintah dan rakyat negara tersebut.

Hasil yang dinikmati sekarang merupakan buah dari usaha keras dari pemerintah dan masyarakat negara tersebut. Mereka menyadari sebagai sebuah negara dengan wilayah yang tidak seberapa besar, hidup dalam lingkungan yang kotor tidak akan membuat kehidupan mereka menjadi sejahtera.

Lagi pula sebagai sebuah negara yang tidak memiliki sumber daya alam, mereka tergantung pada fungsi negara tersebut sebagai pusat bisnis dan perdagangan serta pariwisata. Siapa yang mau berbisnis atau berwisata di sebuah tempat yang kumuh dan kotor.

Pandangan seperti itulah yang mendorong perubahan sikap mental dalam masyarakatnya.

Perubahan dalam pola pikir ini kemudian didorong oleh ketegasan pemerintah Singapura dan aparatnya dalam menjaga lingkungan mereka. Singapura dikenal sebagai salah satu negara yang memberikan sanksi besar terhadap mereka yang membuang sampah sembarangan.

Negara ini juga memiliki peraturan yang di banyak negara lain terdengar aneh, tetapi pada akhirnya justru menghasilkan sesuatu yang bagus. Salah satu aturan seperti ini adalah larangan permen karet di tahun 1987 kecuali untuk kepentingan medis.

Sanksi yang diberikan pada pelanggar aturan ini mulai dari denda, kerja sosial, cambukan rotan, hingga penjara 2 tahun dan denda sangat besar bagi yang dianggap menyelundupkan “hanya” permen karet.

Aturan ini mendapat banyak tentangan dan keberatan dar8 negara besar dimana produsen permen karet berada. Tetapi anjing menggonggong kafilah berlalu kata pepatah, pemerintah Singapura tetap menerapkannya.

Sebagai hasilnya, tidak akan ditemukan sisa permen karet menempel pada fasilitas-fasilitas publik atau tempat umum.

Bersih dan nyaman. Itulah hasilnya.

Kesadaran Lingkungan Perlu Dibangun dan Bukan Ditunggu

NO FREE LUNCH.

Tidak ada makan siang gratis ya mas, mbakyu.

Jika memang kita menginginkan Indonesia memiliki lingkungan hidup yang sama dengan yang dirasakan di Singapura, tidak ada jalan lain selain merubah pola pikir dan sikap mental kita sebagai bangsa.

Hanya itu caranya.

Masyarakat Indonesia, sudah rahasia umum, memiliki sebuah sikap mental yang manja, ceroboh, dan tidak peduli terhadap hal ini.

Bukan sebuah hal yang aneh kalau melihat kaca sebuah mobil mewah terbuka saat berjalan, beberapa saat kemudian tisu bekas atau air mineral melayang keluar. Tidak juga hal yang tidak biasa melihat serakan sampah di setiap acara dimana banyak orang berkumpul.

Jangan ditanya pula mengapa di pintu air Manggarai akan terlihat beberapa truk pengangkut sampah disiagakan setiap harinya. Setiap hari truk-truk tersebut harus bolak balik mengangkut sampah yang tersangkut di pintu air tersebut ke tempat pembuangan akhir. Bukan hanya satu rit.

Kesadaran Lingkungan Harus Dibangun Bukan Hadiah
Sampah di Pintu Air Manggarai – Foto Tribunnews

Kesadaran lingkungan masyarakat Indonesia masih sangat rendah. Itulah permasalahan utama mengapa Indonesia tidak bisa seperti banyak negara maju dalam hal kebersihan lingkungannya.

Indonesia seperti tertinggal 50 tahun dari negara-negara tersebut dalam hal ini.

Malas. Ceroboh. Menganggap remeh.

Hasilnya, ya seperti ini. Kotor dimana-mana.

Pelajaran dari tetangga seharusnya mengatakan pada kita, bahwa perubahan tersebut BISA terjadi. Syaratnya adalah semua pihak berusaha merubah dirinya dan pola pandangnya terhadap lingkungan.

Singapura mendapatkannya bukan karena diberi, tetapi mereka mendapatkan dengan perjuangan dan juga pengorbanan. Mereka membangun dan bukan menunggu semua berubah menjadi nyaman.

Apa yang bisa diambil dari pengalaman negeri Singa itu menunjukkan bahwa kesadaran lingkungan perlu dibangun dan bukan ditunggu.

Membangun Kesadaran Lingkungan

Pertanyaan lanjutannya adalah “Bagaimana Caranya?”

Tidak perlu menjadi seorang ahli untuk bisa melihat mengapa Indonesia masih gagal dalam hal meningkatkan kesadaran lingkungan dalam masyarakatnya.

Banyak hal yang seharusnya dilakukan tetapi tidak dilakukan, baik oleh pemerintah, keluarga, institusi pendidikan dan semua pihak. Semua seperti belum memandang lingkungan sebagai bagian yang penting bagi kehidupan mereka.

Lingkungan lebih menjadi sekedar obyek untuk dimanfaatkan dan dieksplorasi demi keuntungan manusia saja.

Padahal, kesadaran lingkungan bisa tumbuh jika rakyat Indonesia melakukan hal yang seharusnya.

Pemerintah :

Aturan hukum sudah ada di setiap desa, kota, kabupaten di Indonesia tentang tata cara membuang sampah beserta dengan sanksi dan denda yang akan dikenakan bagi yang melanggar.

Berarti tidak beda dengan Singapura kan? Sama-sama punya aturan.

Mengapa hasilnya berbeda? Karena Singapura menerapkan aturan tersebut dengan sungguh-sungguh dan ketat. Pelanggaran tidak ditolerir.

Sedangkan di Indonesia, aturan memang ada tetapi hampir tidak pernah diterapkan. Jarang sekali terdengar seorang pembuang sampah di taman dikenakan denda di tempat. Kecuali ada sidak dari atasan, hampir di semua kota pelanggaran tersebut dibiarkan.

Padahal, penegakkan hukum bahkan pada hal kecil tersebut akan memaksa masyarakat Indonesia untuk terbiasa dan kemudian lama kelamaan merubah pola pikir dan sikap pandangnya terhadap lingkungan.

Keluarga :

Darimana harus memulai untuk mencoba berubah? Dari keluarga. Tanpa perlu disuruh atau dipaksa petugas, sebenarnya keluarga bisa menjadi tulang punggung perubahan.

Orangtua bisa memberikan contoh kepada anak, sekaligus menjadi petugas pengawas bagi mereka agar sejak kecil terbiasa menjaga lingkungan dimana mereka berada.

Syaratnya tentu saja, karena anak-anak itu kritis, orangtua harus juga bisa memberikan contoh yang sama dalam bentuk tindakan.

Hal-hal sederhana seperti memilah sampah, mengurangi penggunaan plastik, menggunakan bahan yang bisa didaur ulang bila dibiasakan akan membentuk sebuah generasi yang lebih sadar lingkungan di masa depan.

Bisakah diharapkan akan sadar dan ikut menjaga lingkungannya jika sang ibu atau ayah terbiasa membuka jendela mobil dan melemparkan sampah ke jalanan?

Saya rasa tidak.

Sekolah :

Secara teori, sekolah adalah perpanjangan orangtua untuk mendidik anak mereka.

Oleh karena itu peran sekolah bukan sekedar hanya menjejali anak didik dengan berbagai teori dan hapalan. Sekolah juga harus bisa membentuk sikap mental dari peserta didiknya.

Dalam hal lingkungan, sudah sejak kecil, rakyat Indonesia diajari untuk menjaga lingkungan dimana mereka tinggal. Tetapi, mengapa tetap saja masih begitu banyak orang Indonesia yang abai.

Kenyataannya terletak pada sistem pengajaran yang lebih sekedar menghapal dan tidak menanamkan inti dari hal itu dalam bentuk tindakan.

O ya sudah pasti anak-anak akan tahu bahwa membuang sampah sembarangan itu tidak baik. Pelajaran IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) dan PPKN serta banyak ilmu lainnya pasti mengajarkan hal seperti itu.

Mereka tahu.

Tetapi, mereka tidak melakukannya.

Karena pihak sekolah belum bisa menanamkan kesadaran itu kepada diri peserta didik.

Singkat kata, perlu keterlibatan dan kerjasama terus menerus antar semua pihak di negara ini untuk membangun kesadaran lingkungan.

Itu kalau memang Indonesia mau menjadi sebuah negara bersih dan nyaman untuk ditinggali.

Membangun kesadaran lingkungan tidak bisa instan

Memang Butuh Waktu Untuk Membangun Kesadaran , Tetapi Sampai Kapan Harus Terus Begini?

“Butuh waktu membangun kesadaran lingkungan!”

Yah, biasanya begitulah jawaban klise dari banyak orang kalau diungkit tentang masalah lingkungan.

Dalih lagi, dalih lagi.

Dengan sudah bertumpuknya bukti efek buruk dalam masalah lingkungan hidup di Indonesia, bukan kah seharusnya proses membangun kesadaran harus dipercepat.

Singapura sudah sedemikian bersih dan maju pada usia 51 tahun. Bagaimana Indonesia setelah 71 tahun?

Sudah bukan saatnya lagi masyarakat Indonesia berpikir bahwa masih ada waktu sehingga bisa berleha-leha dalam hal ini. Berbagai bencana sudah hadir akibat kesadaran lingkungan yang masih begitu rendah di negara ini.

Setiap orang harus sadar dan mulai merubah dirinya sendiri.

Kesadaran Lingkungan bisa dibangun oleh setiap individu tanpa menunggu paksaan pihak lain. Selama niat itu ada, maka sudah selayaknya segera dilakukan. Setiap orang bisa berperan dan mengambil bagian dalam menjaga lingkungan, salah satunya dengan cara menerapkan gaya hidup ramah lingkungan atau Green Lifestyle.

Mulai dari diri sendiri dan mulai dari sekarang.

Itulah intinya.

Jadi, mas dan mbakyu sekalian. Tidak perlu iri sama Singapura, kita juga bisa kok menjadi seperti itu, bahkan lebih baik lagi. Lagi pula iri itu tidak baik.

Mari kita mulai meningkatkan kesadaran lingkungan pada diri kita sendiri dan orang-orang terdekat kita. Dengan begitu, kita sudah menjadi selangkah lebih maju untuk menjadi seperti negara tetangga yang kecil-kecil cabe rawit itu.

Saat ini mereka lebih baik, tetapi suatu waktu kita pasti bisa lebih baik lagi dari mereka.

Yuk, kita buktikan!