GRETA THUNBERG : Aktivis Lingkungan, Pejuang Iklim Cilik Asal Swedia

Greta Thunberg Aktivis Lingkungan, Pejuang Iklim Cilik

Greta Thunberg : Sumber Foto Wikimedia Commons CC BY SA 4.0

Bisakah Anda membayangkan, seorang anak kecil berusia 16 tahun memutuskan untuk berlayar sejauh lebih dari 15 ribu kilometer dengan perahu layar dan bukan kapal pesiar atau pesawat? Sulit memang membayangkan hal seperti itu.

Tetapi, itulah yang dilakukan oleh Greta Thunberg, seorang remaja asal Swedia yang memutuskan untuk menggunakan kapal layar bernama Malizia II melintasi Samudera Atlantik menuju New York. Jarak yang harus ditempuhnya adalah 15.882 kilometer.

Padahal, ada banyak pilihan lain yang tentunya lebih nyaman dibandingkan dengan sekedar kapal layar. Penerbangan antara Eropa dan Amerika Serikat merupakan opsi yang paling umum diambil karena bisa menghemat waktu dan tentunya lebih nyaman dibandingkan dinginnya udara di laut terbuka selama beberapa minggu. Belum lagi perjalanan dengan kapal pesiar yang meski lebih lama tentunya lebih aman dan menyenangkan.

Masalahnya, hal tersebut bertentangan dengan prinsip  yang dianut remaja kelahiran Januari 2003 ini.

Greta merupakan salah seorang aktivis lingkungan dan pejuang iklim yang memandang bahwa penggunaan bahan bakar fosil merupakan penyebab rusaknya atmosfer dan penyebab terjadinya perubahan iklim dan pemanasan global di dunia.

Penerbangan dan kapal laut merupakan dua jenis kendaraan yang menghasilkan jejak karbon yang berbahaya bagi lingkungan dan merupakan sumber pencemar di dunia.

Oleh karena itu, ia menolak untuk menggunakannya bahkan untuk menempuh jarak yang sangat jauh. Ia memilih menggunakan Malizia II karena kapal layar itu digerakkan dengan tenaga surya dan turbin arus laut sebagai tenaga penggeraknya. Kapal layar ini menghasilkan zero emisi dan tidak mencemari udara.

Konferensi Tingkat Tinggi PBB Tentang Iklim

Perjalanan sejauh itu ditempuhnya bukanlah untuk bersenang-senang atau mencari sensasi. Greta Thunberg diundang untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi PBB Tentang Iklim pada bulan September 2019 dan juga Konferensi Perubahan Iklim di Santiago Cile pada bulan Desember 2019 (UNFCC COP 25).

Undangan itu diberikan kepadanya mengingat Greta merupakan salah satu orang yang menginspirasi dan membangkitkan kesadaran banyak orang, terutama kaum muda tentang krisis iklim yang sedang dialami dunia.

Ia akan berbicara di depan dua konferensi penting itu dan untuk itulah perjalanan sejauh itu dilakukannya.

Untuk melakukan perjalanan ini, ia sudah mengambil satu tahun cuti sekolah.

Aktivis Lingkungan dan Pejuang Iklim

Alasan mengapa para petinggi dunia mengundang remaja ini adalah karena apa yang sudah dilakukannya bagi perjuangan mencegah pemanasan global di dunia.

Greta Thunberg sejak tahun 2018 bukan hanya menyuarakan keprihatinan saja, tetapi ia sudah melakukan berbagai gerakan yang mengilhami puluhan ribu remaja di seluruh dunia untuk berjuang demi perbaikan iklim.

Tindakan pertama yang dilakukannya dan menjadi sorotan media dunia adalah ketika ia memilih bolos sekolah dan berdiri di depan Gedung Parlemen Swedia sambil membagikan brosur dan mengajak banyak orang untuk bergabung. Hal ini dilakukannya selama lebih dari dua minggu sejak 20 Agustus 2018 sampai 9 September 2018 saat Pemilu di Swedia dilaksanakan.

Ia menyebut apa yang dilakukannya sebagai Skolstrejk för klimatet atau Pemogokan Sekolah Untuk Iklim.

Setelah Pemilu Swedia berakhir, Greta tetap melakukan pemogokan demi iklim ini setiap hari Jumat.

Apa yang dilakukan Greta kemudian mengilhami puluhan ribu remaja dan pelajar di berbagai penjuru dunia untuk melakukan pemogokan yang sama. Sampai dengan Desember 2018, tercatat 20 ribu pelajar dari 270 sekolah melakukan Pemogokan Demi Iklim ini.

Bahkan, gaung dari apa yang dilakukan Greta masih terus berlangsung sampai hari ini. Setiap minggu, pada hari Jumat selalu ada aksi yang sama di berbagai belahan bumi.

Bahkan, para pelajar di New York sudah merencanakan aksi besar-besaran pada Jum’at 20 September 2019 ini. Dan, didukung oleh pihak sekolah yang memberikan dispensasi dan tidak akan memberikan hukuman kepada mereka yang bergabung dalam aksi ini.

Masih bisa diharapkan bahwa aksi-aksi yang sama akan terus terjadi di berbagai belahan dunia yang lain. Apa yang disuarakan Greta sepertinya telah membangkitkan kesadaran para pemuda dunia bahwa mereka merupakan generasi penerus yang berhak terhadap dunia ini.

Mereka bisa memaksa dan mendorong para “orangtua” untuk mewariskan dunia yang lebih baik bagi mereka dan bukan dunia yang rusak akibat ulah para orangtua.

Greta Thunberg - Aktivis Lingkungan, Pejuang Iklim Cilik asal Swedia

Greta Thunberg : Sumber Europe Parliament

Banyak orang berkata bahwa kita harus menjaga lingkungan demi generasi mendatang, tetapi biasanya tanpa melakukan tindakan nyata. Masalah lingkungan masih berada pada skala prioritas terbawah dibandingkan hal lain.

Sayangnya, kecerobohan itu membuat krisis perubahan iklim terjadi seperti sekarang dan membahayakan generasi mendatang.

Dan, Grete Thunberg, sebagai wakil dari “generasi mendatang” itu memang memiliki hak untuk menuntut. Begitu juga puluhan bahkan ratusan ribu pemuda dan pelajar yang akan mewarisi dunia ini.

Mereka berhak marah dan menuntut hak mereka sebagai pewaris.

Sesuatu yang membuat miris melihat apa yang diwariskan kepada generasi mendatang di Indonesia, mengingat mayoritas masyarakatnya, tua atau muda, masih kurang peduli terhadap masalah lingkungan. Bahkan, mereka masih mencoba menentang kebijakan “tanpa kantong plastik” yang sedang bergulir, meski banyak yang sudah tahu bahwa hal itu berimbas negatif pada lingkungan.

Semoga saja ada satu atau dua Greta Thunberg yang lahir di Indonesia di masa datang.

Share tulisan ini untuk membantu lingkungan