“Better Cotton Initiative (BCI)” – Menuju Katun Ramah Lingkungan

Better Cotton Initiative (BCI) - Menuju Katun Yang Ramah Lingkungan

Memang, istilah BCI sendiri masih belum umum di Indonesia, dimana kesadaran terhadap lingkungan masih sangat rendah. Meskipun demikian, bukan tidak mungkin di masa depan, tiga kata ini akan mulai masuk ke negara ini mengingat para pendukungnya merupakan brand-brand ternama yang banyak digandrungi oleh masyarakat Indonesia, seperti Marks & Spencer, H&M, Ikea, Levi’s dan masih banyak lagi nama-nama terkenal di dunia fesyen.

BCI sendiri merupakan singkatan dari Better Cotton Initiative. Dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai “Inisiatif Untuk Katun Yang Lebih Baik”. Sebuah kerjasama internasional yang melibatkan banyak stakeholder dalam industri fesyen atau pakaian di dunia. Paling tidak, 20 negara setuju untuk ikut serta dalam kerjasama ini, selain tentunya para pemegang brand.

Mengapa Better Cotton Initiative (BCI)

Tahukah Anda bahwa salah satu industri yang paling kurang ramah lingkungan adalah industri fesyen, atau pakaian. Hal ini berlandaskan pada kenyataan bahwa untuk memproduksi sebuah pakaian jadi, proses produksinya banyak memberikan dampak buruk kepada lingkungan.

Salah satu contohnya adalah sebuah celana jeans, anggaplah Levi’s membutuhkan air sebanyak 8500 liter. Hanya sebuah jeans. Angka itu merupakan data yang dikumpulkan sejak proses penanaman pohon katun ditambah dengan berbagai proses selanjutnya, seperti memintal, menenun, menjahit dan seterusnya.

Sebuah angka yang tidak pernah diduga banyak orang bahwa sebuah produk pakaian saja memerlukan air sebanyak itu. Padahal, di banyak bagian dunia lain, masih banyak wilayah yang justru kekurangan.

Air adalah sumber alam yang sangat berharga.

Belum lagi ditambah dengan fakta di lapangan terkait penggunaan pupuk. Banyak proses penanaman katun yang hanya terfokus pada jumlah hasil dimana penggunaan pupuk kerap dilakukan secara berlebihan demi mengajar hasil produksi yang banyak. Hal ini sangat mempengaruhi tingkat kesehatan tanah.

Dengan semua yang terjadi di lapangan ini,  kelestarian lingkungan dan alam akan terancam. Pencemaran air pada akhirnya akan membahayakan umat manusia juga. Rusaknya tanah juga memberikan ancaman yang tidak kalah besarnya.

Untuk itulah, pada tahun 2005 sebuah inisiasi untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan terkait penanaman dan penggunaan katun dilakukan.

Tujuan Dan Target Better Cotton Initiative

Selain tujuan utamanya adalah untuk mengurangi dampak buruk yang ditimbulkan dari pemanfaatan katun, BCI juga menggalakkan berbagai program terkait dengan perbaikan kehidupan petani dan juga para pekerja yang berkaitan katun sebagai bahan dasarnya.

Usaha mengkampanyekan anti pekerja anak juga menjadi salah satu agendanya.

Paling tidak ada 4 tujuan yang diharapkan bisa terwujud dalam kerjasama ini, yaitu :

  1. Mengurangi dampak terhadap lingkungan akibat pemanfaatan katun
  2. Memperbaiki taraf kehidupan dan ekonomi di wilayah-wilayah yang merupakan sentra produksi katun
  3. Meningkatkan komitmen dari semua pihak yang terkait dengan produksi dan pemanfaatan katun
  4. Mempertahankan kredibilitas dan kelestarian dari kerjasama BCI ini

Berdasarkan tujuan ini, maka produk yang dihasilkan dan layak menyematkan singkatan BCI pada labelnya, harus mengikuti 6 prinsip standar yang diberlakukan terhadap semua pihak dalam rantai suplai katun BCI, yaitu

  • BCI atau Katun Yang Lebih Baik diproduksi oleh petani yang memperhatikan dampak lingkungan saat memproduksi katun tersebut
  • BCI diproduksi oleh petani yang menggunakan air secara efisien dan memperhatikan kelestarian sumber daya air
  • BCI diproduksi oleh para petani yang memperhatikan kesehatan tanah
  • BCI diproduksi oleh para petani yang peduli terhadap kualitas dari katun yang diproduksinya
  • BCI diproduksi oleh petani yang menerapkan kelayakan bekerja

Sekarang ….

Sampai dengan tahun 2017, kerjasama untuk menghasilkan katun yang lebih ramah lingkungan ini mendapat dukungan luas. Bukan hanya dari banyak negara, tetapi juga berbagai pihak lain, seperti perusahaan pemegang merk ternama.

Paling tidak 31 negara penghasil katun dunia ikut serta dalam BCI. Ditambah dengan 85 usaha retail besar dunia (termasuk yang namanya sudah disebutkan di atas), 1000 lebih supplier dan produsen katun, 32 organisasi produsen, 31 organisasi kemasyarakatan dan masih banyak lainnya.

Sejauh ini, katun yang berasal dari mereka yang ikut dalam kerjasama untuk memproduksi katun yang lebih ramah lingkungan ini, paling tidak sudah mensuplai 14% dari total produksi katun dunia.

Memang masih jauh dari ideal karena sebagian besar petani dan pengguna serat alami ini masih belum bergabung, tetapi perkembangannya menunjukkan bahwa kesadaran itu sudah mulai tumbuh dan di suatu waktu katun bisa menjadi lebih ramah lingkungan dibandingkan saat ini.

Apalagi, label BCI terhadap sebuah produk katun sekarang memiliki nilai jual lebih. Tiga huruf ini memberikan image positif terhadap penjualnya karena mereka dianggap lebih sadar lingkungan. Sesuatu yang merupakan topik hangat di masa sekarang.

Sayangnya, gaung BCI sendiri kurang terdengar di Indonesia. Bukan hanya karena negara ini bukan termasuk produsen utama serat katun, tetapi kesadaran masyarakatnya yang masih sangat rendah. Isu-isu yang seperti ini masih sulit diharapkan untuk bisa diterima, terutama kalau ternyata penerapan BCI membuat harga menjadi lebih mahal.

Tetapi, mudah-mudahan saja, dengan semakin berkembangnya kerjasama internasional ini, suatu saat negara ini juga akan “terinfeksi” kesadaran bahwa baju dan pakaian yang mereka kenakan bisa menjadi lebih ramah lingkungan.

Semoga.