5 Alasan Budaya Bersepeda Hampir Hilang Di Indonesia

Beberapa tahun belakangan ini, pemerintah Indonesia semakin sering menggalakkan usaha untuk mengembalikan budaya bersepeda di negeri ini. Berbagai cara dilakukan untuk menarik perhatian dan minat masyarakat untuk meninggalkan kendaraan bermotor pribadi mereka dan beralih ke kendaraan roda dua ini.

Alasannya bukan lain salah satunya adalah untuk mengurangi polusi udara yang semakin membahayakan, terutama di kota-kota besar. Selain itu, penggunaan sepeda yang lebih marak diharapkan bisa meminimalkan kemacetan yang semakin lama semakin menjadi momok bagi banyak kota di Indonesia.

Berbagai cara dilakukan. Para pejabat berlomba-lomba “memberi contoh”, seperti Sandiaga Uno, saat masih menjabat Wakil Gubernur DKI Jakarta yang beberapa kali mempergunakan sepeda setiap hari Jum’at menuju kantornya. Gerakan sepeda sehat didorong untuk muncul di pelosok Indonesia.

Sayangnya, sejauh ini hasilnya masih jauh dari yang diharapkan. Masyarakat Indonesia sepertinya tidak begitu tertarik untuk menghidupkan kembali budaya bersepeda.

Apa Itu Budaya Bersepeda ?

Budaya bersepeda sendiri merujuk pada sebuah kebiasaan untuk menggunakan sarana transportasi sepeda dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam sebuah masyarakat yang budaya ini merasuk, seperti di negara Kincir Angin, Belanda, penduduknya memanfaatkan jasa si kendaraan yang harus dikayuh ini untuk menjalankan aktivitas sehari-harinya, seperti ke kantor, ke pasar, ke supermarket, atau bersekolah.

Sepeda menjadi bagian dari rutinitas setiap orang.

Di Indonesia sendiri, memang penggunaan sepeda masih banyak dilakukan, tetapi bentuknya tidak lagi mencerminkan bahwa sebagai budaya. Bersepeda di Indonesia lebih dipandang sebagai sebuah sarana hiburan, rekreasi, dan olahraga saja.

Dalam kehidupan rutinnya, masyarakat Indonesia lebih menyukai sepeda motor atau mobil untuk beraktivitas. Bahkan, di beberapa kota yang dulu terkenal dengan budaya bersepedanya, seperti Yogyakarta dan Solo saja, penggunaan sepeda semakin menurun dan digantikan dengan sepeda motor atau mobil.

Itulah alasan mengapa budaya bersepeda bisa dikata hampir hilang di Indonesia.

Alasan Budaya Bersepeda Kian Menghilang

Berbagai usaha pemerintah untuk menghidupkan kembali budaya bersepeda sangat patut diapresiasi. Jika bisa terwujud, hasilnya akan sangat memberikan kontribusi positif bagi banyak hal, salah satunya adalah tentang mencegah perubahan iklim di dunia mengingat sepeda merupakan sarana transportasi yang mengeluarkan emisi nol.

Sangat ramah lingkungan.

Meskipun demikian, belum berhasilnya usaha tersebut berbagai alasan mengapa budaya bersepeda hampir hilang di Indonesia belum terselesaikan dengan baik.

Ada beberapa penyebab yang bahkan tidak perlu menjadi seorang ahli untuk mengetahuinya, seperti :

1) Jarak Yang Menjauh

Perubahan tatanan kehidupan sosial di masyarakat Indonesia menunjukkan bahwa “jarak” yang semakin melebar antara tempat tinggal seseorang dan pusat aktivitas mereka.

Contohnya, jarak dari rumah ke kantor atau ke sekolah.

Di masa lalu, antara tahun 1940-1960-an, mungkin jaraknya hanya 2-4 kilometer, yang tentunya bisa ditempuh dengan berjalan kaki atau mengayuh sepeda.

Tetapi, di masa sekarang, dengan semakin banyaknya penduduk dan tingkat persaingan yang tinggi dalam hal mencari kerja atau sekolah, seseorang terkadang harus menerima kondisi dimana sekolah atau tempat kerjanya memiliki jarak yang jauh.

Bahkan, bisa sampai puluhan kilometer.

Tentunya, sepeda bukanlah kendaraan yang cocok untuk itu. Sepeda didesain untuk memanfaatkan tenaga manusia dan untuk jarak pendek. Menempuh jarak puluhan kilometer akan sangat melelahkan.

2) Waktu Yang Semakin Terbatas

Di masa lalu, tahun 1970-1980-an, seorang anak sekolah bisa berangkat pukul 07.00 dan sudah kembali di rumah pukul 13.00.

Anak sekolah di zaman sekarang berbeda, terkadang mereka baru kembali ke rumah sekitar pukul 16.00-17.00, selain di sekolah mereka juga terkadang harus les berbagai jenis.

Jangan ditanyakan untuk karyawan karena sekarang pulang ke rumah pukul 18.00 saja sudah dianggap bagus karena kebanyakan justru baru tiba di rumah antara pukul 19.00-20.00.

Belum ditambah jarak yang harus ditempuh semakin menjauh, seperti di Jabodetabek. Waktu tempuhnya lebih lama antara 1-3 jam untuk mencapai tempat kerja.

Hal ini tentu memaksa orang untuk menemukan kendaraan yang lebih efisien waktu, dan sepeda tidak termasuk di dalamnya. Sepeda tidak memberikan sesuatu yang bisa membuat orang bisa menggunakan waktunya dengan efisien.

3)  Status

Coba saja tayakan kepada anak millenial, kalau mereka hendak bepergian dengan pacar ke bioskop, maukah mereka menggunakan sepeda daripada sepeda motor? Pasti jawabnya tidak.

Juga ibu-ibu yang dulu biasanya bersepeda ke pasar? Apakah mereka mau mengayuh sepeda?

Terjadi perubahan dalam masyarakat Indonesia dimana sepeda dipandang sebagai kendaraan untuk orang tidak berduit.Bukan orang kaya. Hal itu mendorong orang untuk menjauh dari sepeda karena mereka juga ingin menjadi orang terpandang terutama dari sisi materi.

Perubahan ini juga bisa dterlihat di jalan raya dimana pengguna sepeda menjadi kaum marjinal.

Jalur Khusus Sepeda Tidak Berguna Tanpa Budaya Bersepeda A

4) Keselamatan dan Keamanan

Amankah menggunakan sepeda di jalan raya? Kalau akhir pekan mungkin nyaman dan aman, tetapi kalau di hari sibuk, hari kerja, pastinya sulit untuk merasa keselamatan terjamin.

Ketidakpatuhan para pengguna jalan di Indonesia menghasilkan sebuah kondisi yang bahkan sulit untuk merasa aman di dalamnya. Kecerobohan penggunanya sudah menghasilkan bukti yang banyak sekali dalam bentuk kecelakaan lalu lintas yang semakin tahun semakin meningkat.

Keegoisan para pengguna sepeda motor sudah bukan cerita baru dan mereka tidak segan merampas bahkan hak pejalan kaki atas trotoar yang aman.

Bagaimana bisa pesepeda merasa tenang tanpa takut harus diseruduk dan ditabrak oleh kendaraan lain? Bahkan, meskipun ada jalur khusus sepeda, tidak akan aneh kalau pada akhirnya diserobot oleh pemotor atau pengendara mobil yang terjebak kemacetan.

Jalur busway/Transjakarta yang dibangun khusus dan diberi pembatas saja diterobos apalagi hanya sekedar garis di jalan.

Jaminan keselamatan, padahal, merupakan unsur penting kalau memang mau mendorong orang beralih ke sepeda. Tanpa itu, mana mau masyarakat beralih karena bagaimanapun mereka tidak mau celaka.

5) Kesadaran Terhadap Lingkungan

Salah satu hal yang banyak digadang-gadang pemerintah untuk menggalakkan bersepeda adalah dengan menekankan bahwa kendaraan ini ramah lingkungan.

Tidak salah. Sepeda memang sangat ramah lingkungan dan tidak memproduksi emisi karbon saat digunakan.

Tteapi, di tengah masyarakat yang kesadaran terhadap lingkungannya begitu rendah, hal itu seperti membuang garam ke laut saja. Percuma. Bahkan untuk membuang sampah pada tempatnya saja masih sulit untuk dilakukan, apalagi harus berbicara tentang mengurangi emisi karbon.

————-

Tantangan yang sangat berat bagi pemerintah pusat dan daerah, jika mereka memang benar-benar ingin membangkitkan kembali budaya bersepeda yang hampir masuk ke liang kubur.

Semua alasan penyebab budaya bersepeda hampir punah itu harus dipenuhi dan dipecahkan. Tidak bisa satu persatu. Semua adalah kombinasi yang mendorong orang malas bersepeda.

Pasti akan butuh waktu lama karena seperti biasa sebuah budaya baru akan terbentuk setelah puluhan tahun dan tidak bisa secara instan.

Meskipun demikian, apa yang sedang diupayakan memang bagus sekali, setidaknya sudah ada langkah awalnya dan semoga disusul dengan tindakan lanjutan, seperti penegakan hukum di jalan, dan lain sebagainya.

Masih panjang jalan yang harus ditempuh untuk mengembalikan budaya bersepeda ke Indonesia.

Mari Berbagi